Topik 1, 28 Pebruari 2007.
Biennale Seni Rupa , antara perlu dan tidak perlu
Sejak insiden CP Biennale 2005 lalu, banyak penggiat, pengamat dan khalayak seni rupa di Indonesia merasa pesimis dengan penyelenggaraan biennale di tanah air. Lontaran kritik, keprihatinan, bahkan cacian,dan umpatan, kesinisan, terhadap seputar peristiwa biennale di Indonesia kemudian merebak, seperti yang terjadi pada Biennale Jogja 2005 dan Biennale Bali pertama. Bahkan kemudian banyak peserta di Biennale Jakarta 2006, urung atau mengundurkan diri dari kesertaan, ini suatu preseden yang harus dicermati. Namun disisi lain, khalayak seni rupa pun banyak yang tak memahami benar tentang tujuan-tujuan utama dari penyelenggaraan bienale. Disini tercemin juga bagaimana sengkarut soal infrastruktur seni dalam hal pengelolaan sebuah biennale dilaksanakan, dan mediasi kepentingan suatu peristiwa biennale / triennale kepada khalayak seni.Namun, sebagian dari khalayak masih punya keinginan untuk melihat biennale yang lebih baik dimasa depan. Maka kesempatan untuk memperbaiki infrastruktur pun menjadi krusial.
Pada tanggal 21, Pebruari 2007 lalu, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengundang beberapa penggiat seni rupa dari Bandung, Jakarta, dan Jogjakarta. Pertemuan terbatas ini dimaksudkan untuk membicarakan seputar penyelenggaraan biennale, khususnya Biennale Jakarta yang selalu diselenggarakan oleh DKJ sebagai organisasi tetap. Ada beberapa isu yang cukup menarik dari pertemuan tersebut. Pertama mungkin tentang penilaian tentang kepentingan menyelenggaran pameran besar secara regular dua tahunan tersebut.
Enin Supriyanto menilai peristiwa seni rupa seperti biennale seharusnya mempunyai dampak secara internasional, sehingga pertimbangan untuk menjadi biennale internasional, yang melibatkan para seniman dan pemain internasional sangat penting. Oleh karena itu, ia kemudian menggaris bawahi, biennale harus memunculkan wacana yang cukup signifikan sebagai tawaran dalam kurasi biennale, sehingga seni rupa kontemporer Indonesia bisa diterima oleh pengamat internasional.
Berbeda dengan Hendro Wiyanto dan Asmudjo J. Irianto, pada hematnya mereka lebih condong untuk membangun kekuatan lokal, mempertimbangkan bahwa penyelenggaraan biennale memang cukup mahal dan juga sistim pengelolaan yang sementara masih minim. Ditanggapi oleh Farah Wardani, bahwa ada kepentingan yang lebih urgent, yakni masalah pemerataan apresiasi khalayak luas. Ia lebih menekankan pada pendidikan publik, menciptakan program – program interaktif, artist residensi, membawa karya – karya biennale ke luar dari pusat-pusatnya. Seperti ke Sulawesi atau Sumatera.
Tetapi sementara itu DKJ harus mencari suatu format organisasi untuk menyelenggarakan biennale yang lebih baik. Masalah ini diungkapkan oleh Bambang Bujono dan Marco Kusumawijaya (dari DKJ), bahwa pada dasarnya program dan budget DKJ tidak hanya terkonsentrasi untuk menyelenggarakan sebuah biennale, namun organisasi itu bisa membentuk organisasi Ad Hoc, seperti dalam penyelenggaraan Biennale Jakarta IX tahun 1993 – 94.
Maka saya mengundang khalayak untuk ikut memberikan masukan maupun komentar tentang seputar perbincangan biennale ini, dari berbagai sisinya. Terima Kasih sebelumnya. ( Rifky Effendy)
Sebaiknya Biennale tetap dilaksanakan, itu catatan penting bagi senirupa Indonesia. Apakah nasional ataupun internasional, itu tergantung kemampuan dan tujuan.
Kesulitan untuk menyelenggarakannya secara profesional, itu kendala yang selama ini menghambat sebuah penyelenggaraan menjadi lebih baik setiap event-nya. Tentunya itu catatan penting yang harus diperbaiki terus menerus. Jangan sampai sebuah lembaga besar seperti DKJ tidak bisa membuat hanya sebuah kontrak kerjasama antara penyelenggara- kurator dan seniman.
Biennale bukan saja mendorong seniman untuk melahirkan karya-karya yang “baik”. Tetapi juga membantu seniman untuk bisa bekerja secara profesional dengan pihak manapun. Begitu juga penyelenggara Biennale atau pameran apapun. Karenanya bentuk kerjasama, perjanjian dan teknis kerja pameran menjadi penting buat bersama.
Kita mulai memperbaikinya dari yang sederhana itu, membuat kerjasama yang jelas. Memperjelas posisi dan tanggung jawab masing-masing pihak. Selebihnya, apa yang selama ini berjalan, sistem pemilihan, pengadaan material, transport, dan lain-lain biarlah berjalan seperti biasa dulu hingga secara material kita bisa memperbaikinya. Amiiiiin.
Setuju dengan pendapat Tita Rubi.
Nothing is perfect. Sebaik-baik apapun kita berusaha – sebagai seniman maupun penyelenggara, masalah bisa saja muncul. Sebaiknya kita belajar dari pengalaman untuk menghasilkan yang lebih baik di lain kali. Dengan demikian kita bisa bersama-sama memajukan mutu dan tingkat profesionalitas senirupa kita.
saya setuju dengan apa yang dinyatakan oleh tita rubi. sebab, biennale merupakan suatu ujian dari perkembangan pemikiran yang ada. dengan biennale itu pula kita bisa menguji sejauh manakah pemikiran di nusantara misalnya mengalami perkembangan. senirupa sebagai data, fakta dan bukti dan memiliki kontribusi dalam kehidupan kebudayaan. soal yang kita hadapi, menurut kesan saya, dalam banyak pameran senirupa begitu banyak arus pemikiran yang “datang dari luar” demikian dominan. ini nampaknya sejalan dengan “arus pasar” internasional, dan disana pula nampaknya para perupa nusantara ingin melengketkan dirinya.
dengan kata lain, dalam kaitannya dengan biennale, ada baiknya jika rumusan pemikiran dalam bentuk tema itu didasarkan dari hasil penelusuran atau riset sejarah. mungkin dengan itu kita bisa saja tidak mesti memasuki arus sejarah yang pernah ada. tapi kita bisa punya argumentasi yang kuat, bahwa sesuatu yang “meloncat” atau “melenceng” dari arus itu juga dibutuhkan.
biennale, triennale, binal
perlu ngga perlu ngga perlu..
..asal yang menyelenggarakannya amanah
niat senimannya khusnul khotimah
penontonnya lillahita’ala
..insyaalloh,akan mendapatkan hidayah yang bermanfaat..
viva andy warhol, ronaldinho, viva persib !
saya rasa biennale sangat diperlukan untuk mengingatkan seniman (baik tua maupun muda) sesuatu yang bersifat ART FOR ART bukan (selalu) ART FOR SALE. selain itu biennale juga bisa menjadi tolok ukur kekuatan seniman; akan lebih baik jika apabila ada seniman luar yang ikut. Jadi menurut saya, biennale itu juga sedikit banyak bersifat indirect competition antar seniman untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Kekuatan lokal akan menjadi lebih dengan adanya biennale.
Namun memang patut disayangkan beberapa hal dalam penyelenggaraan biennale di Indonesia: (1) masih banyak masyarakat yang masih belum dapat ‘membaca’ seni itu contoh kasus karya Agus Suwage – ini karena pendidikan kita yang bersifat authoritative membuat our mindset living in a box (2) penyelenggaraan terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sekitarnya – jadi tujuan menyebarkan fungsi seni itu secara lokal saja tidak tercapai. Saya sangat setuju dengan Farah Wardani – mudah2an tidak bersifat lips-service. gitu loh dari saya!
Gimana ya, untuk saat ini saya kok rasanya nggak terlalu mendukung gagasan pentingnya penyelenggaraan biennalle atau triennalle. Buat saya perayaan2 model gini bisa jadi nggak terlalu kontekstual buat kondisi kita di sini (saat ini). Mungkin dalam beberapa hal ajang seperti ini memang diperlukan. Tapi sejauh yang saya perhatikan, rasa2 sih di sini ajang biennalle atau triennale hanya menjadi perayaan kalangan tertentu saja. Jarang sekali event semacam ini menjadi ajang sirkulasi produksi dan distribusi pengetahuan publik. Sehingga acara2 semacam ini bisa menjadi ajang yang mengakomodasi kebutuhan orang banyak akan informasi dan ilmu pengetahuan.
Penyelenggaraan acara2 semacam biennalle atau triennalle sebetulnya bisa kita lihat sebagai mekanisme produksi budaya yang advance. Di situ peran seniman sebetulnya nggak terlalu dominan kalau menurut saya. Di banyak negara, acara-acara semacam ini keberadaannya juga ditopang oleh kebijakan publik dan dukungan yang memadai dari institusi kapital maupun intitusi akademis. Artinya, biennalle atau triennalle itu bukan semata-mata sebuah peristiwa kesenian belaka. Dalam acara2 semacam ini, berbagai macam informasi dan pengetahuan di produksi dan disebarkan dengan cara yang sangat sophisticated sehingga dapat menjadi ajang refleksi kritis.
Kalau saya sih sebetulnya lebih tertarik untuk menyoroti acara2 kecil yang punya komitmen yang khusus pada aktifitas penyebaran informasi dan pengetahuan publik dalam arti yang luas. Artinya, meskipun hanya sekedar pameran rutin atau festival kecil, tapi dikerjakan dengan kesungguhan dan komitmen yang profesional aja udah jauh lebih dari cukup. Terutama ketika kita sama-sama tau kalau pranata produksi budaya di Indonesia masih berantakan dan perlu kita bangun sama-sama.
Menyoroti kegiatan2 yang hanya terfokus di pulau Jawa, saya merasa itu merupakan sebuah kecelakaan budaya yang harus dicari solusinya sama-sama. Barangkali langkah pertama adalah menumbuhkan inisiatif sipil untuk mulai mengorganisasi diri dan menggagas banyak kegiatan, terutama buat teman2 yang ada di daerah-daerah. Nggak harus bikin kegiatan besar. Bikin acara kecil-kecilan tingkat RT atau 17 Agustusan juga bisa. Yang penting ada kesungguhan. Selebihnya kita bisa sama2 berproses dan saling belajar. Mumpung sekarang ada teknologi internet yang memungkinkan kita untuk bisa saling berkomunikasi dengan mudah dan murah. Dengan komitmen dan tekad yang kuat, bukannya nggak mungkin kalo suatu saat ada Manokwari Biennalle atau Triennale Gorontalo…hehehheheh…
Salam,
-Gustaff
Menurut saya pribadi;perlu. Karena tanpa adanya acara2 seperti trienal,bienal bagaimana kita bisa mengetahui apa yang terjadi didalam dunia senirupa sekarang,kemarin dan nanti..hayoo? perlunya acara2 besar seperti ini jugakan berfungsi sebagai tolak ukur.
Yaa kalau soal cacian,sindiran,dkk terhadap seputar acara ataupun karya,bukannya itu soal biasa?dimanapun dan kapanpun pasti akan menghadapi masalah yang sama.
“Karena tanpa adanya acara2 seperti trienal, bienal bagaimana kita bisa mengetahui apa yang terjadi didalam dunia senirupa sekarang, kemarin dan nanti..hayoo? perlunya acara2 besar seperti ini jugakan berfungsi sebagai tolak ukur.”
Pertanyaan:
1. Emang gunanya mengetahui apa yang terjadi di dunia seni rupa itu apa sih?
2. Acara2 besar berfungsi sebagai tolak ukur? Tolak ukur apa? Siapa yang berhak untuk menentukan tolak ukur? Untuk apa? Gimana caranya menentukan tolak ukur? Atas dasar kepentingan apa? (kepentingan siapa?)
biennale senirupa “indonesia” masih diperlukan
selama model kerjanya tidak sekedar mengekor pada biennale2 internasionalnya eropah atau amerika.
lebih seru misalnya kalo para perupanya dimana dalam proses kerja karyanya langsung diapresiasi oleh publiknya.
Menurut saya tetap perlu dilaksanakan biennale seni rupa Indonesia sebagai kegiatan berkala yang sedikit demi sedikit nantinya bisa menjadi event seni rupa yang dinantikan oleh orang-orang Indonesia bahkan dunia, meskipun saat ini belum banyak yang tahu. Jadi tidak melulu untuk kepentingan seniman dan karyanya saja tetapi bisa juga dinikmati khalayak luas.
Selain itu perlu juga berbagai event pameran di daerah-daerah yang harus digarap dengan serius dan profesional supaya potensi seniman daerah-daerah dapat timbul dan bersaing secara profesional.
biennale senirupa “indonesia harus ada.
dengan begitu kita menghargai para perupa yang tetap berkarya.
tanpa biennale senirupa, ibarat pasar yang kosong melompong, pucat kekurangan wacana.
hmm.. bienale atau apapun itu sangat perlu, banyak lah benefitnya seperti yang disampaikan saudara2 di atas, sekalipun kita tidak bisa mengharapkan suatu penyelenggaraan yang benar2 sempurna dulu & menyenangkan semua pihak.. di banyak lini seni rupa indonesia & infra strukturnya masih banyak yang perlu dibenahi.. kalo pun belum sempurna, ya kita belajar dalam proses, kita sama2 belajar.. kalo belum baik dibenahi lagi di kemudian hari.. jangan kebanyakan apriori duluan sebelum memulai sesuatu, gagaslah suatu konsep & strategi yang baik, bisa saja dikontekstualisasikan dgn kondisi saat ini, kalo mau, kalo kebanyakan kekuatiran ini itu, kapan kita akan mulai melangkah? ini kan demi kepentingan kita bersama & harus diperjuangkan juga bersama2.
gustaff, gimana komentarmu?
apa masih bersikukuh dengan opini atau pertanyaan awal topik ini. Menarik juga kalau pertanyaanmu itu dijawab oleh dirimu sendiri. Ya semacam tes untuk melihat gimana sikap akhir-mu.
Pertanyaannya:
1. Emang gunanya mengetahui apa yang terjadi di dunia seni rupa itu apa sih?
2. Acara2 besar berfungsi sebagai tolak ukur? Tolak ukur apa? Siapa yang berhak untuk menentukan tolak ukur? Untuk apa? Gimana caranya menentukan tolak ukur? Atas dasar kepentingan apa? (kepentingan siapa?)
Seperti Restu, Firman, Jenny dan Perempuan Misterius (hehehe…siapa do’i) merasakan bahwa bienale itu perlu.
Heheheh….gua coba jawab versi gua yah..
1. Emang gunanya mengetahui apa yang terjadi di dunia seni rupa itu apa sih?
Gua rasa nggak ada gunanya. Rasanya sih lebih penting untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di lingkungan kehidupan sehari-hari ketimbang ngomongin seni rupa. Nggak tau kenapa, pembicaraan mengenai seni rupa di Indonesia semakin hari buat saya semakin membosankan. Topik2 diskusi yang beredar di pameran-pameran dan forum2 diskusi seni buat saya lebih mirip seperti kaset butut yang sudah diputer berulang-ulang, sehingga lama-lama kasetnya kriting dan mengganggu ketentraman batin
Tapi nggak semua kok. Ada juga diskusi seni yang masih menarik. Cuma sayangnya diskusi2 yang menarik justru nggak terjadi di kanon2 mainstream. Buat gua sih nggak masalah. Tapi intinya buat gua ngomongin seni rupa saat ini bukan merupakan topik yang menarik minat secara pribadi. Terutama ketika diskusi seni hanya terpatok pada persoalan pasar, estetika dan mentalitas pelaku medan sosial seni yang terlalu pragmatis dalam memandang situasi kehidupan sehari-hari. Seni harusnya bisa jadi inspirasi di tengah2 situasi realitas yang serba chaos. Terus terang selama ini gua nggak mendapatkan inspirasi yang berarti ketika ngomongin seni.
2. Acara2 besar berfungsi sebagai tolak ukur? Tolak ukur apa? Siapa yang berhak untuk menentukan tolak ukur? Untuk apa? Gimana caranya menentukan tolak ukur? Atas dasar kepentingan apa? (kepentingan siapa?)
Terus terang gua selalu curiga kalo ada yang bicara tentang tolak ukur. Gua rasa kita nggak bisa naif dalam memandang sebentuk praktik budaya. BUat gua, praktik budaya itu selalu punya relasi yang khusus dengan kekuasaan. Apakah itu kekuasaan politik atau kapital. Nah, kalo kita bicara mengenai seni rupa sebagai tolak ukur perkembangan budaya, hal ini tentu saja nggak bisa lepas dari konsepsi mengenai struktur kuasa maupun kepentingan-kepentingan yang ada di sekelilingnya. Maaf kalau gua agak sinis kalo soal ini. Tapi sejujurnya, gua ngerasa kalo wacana mengenai seni di Indonesia lebih banyak di dominasi oleh ego seniman dan hegemoni institusi yang secara halus mengkooptasi kebebasan masyarakat sipil untuk mengakses dan sekaligus memproduksi pengetahuan/gambaran mengenai kenyataan berdasarkan versi mereka. Seniman seakan-akan menjadi sosok yang memiliki legitimasi untuk menggambarkan realitas, seperti halnya institusi politik atau media mainstream. Buat gua ini merupakan sebentuk hegemoni yang memasung perkembangan pengetahuan publik dan dalam beberapa hal membentuk persepsi mengenai kenyataan yang terdistorsi. Gua percaya kalo praktik budaya itu nihil tanpa pengetahuan (publik). Seniman dan medan sosial seni dalam hal ini dapat dikatakan nggak ada artinya kalo tidak menyandarkan aktifitasnya di wilayah publik. Dalam tataran ini gua mengatakan kalo kita “belum” perlu biennalle, terutama ketika acara2 semacam ini hanya menjadi perayaan sekelompok elit masyarakat dan meninggalkan kelompok masyarakat yang lain. Daripada susah-susah bikin biennalle, mending bikin acara 17 Agustusan tingkat RT/RW
Perlu atau tidaknya keiatan semacam ini diadakan itu terantung dari kepentingannya masing2. Mereka yang menganggap tidak perlu mungkin saja hanya cemburu karena tidak pernah diajak turut serta didalamnya atau mungkin belum menyadari benar dimana pentingnya kegiatan tersebut diadakan.
Selama masih ada manfaatnya walaupun untuk segelintir orang tetap lebih baik berbuat asalkan tujuannya memang untuk kepentingan seni rupa Indonesia secara keseluruhan. Kalau perlu dibuat lebih banyak lagi event semacam itu, “ya.. biar lebih rame aja”. lai pula tidak ada ruginya untung malah terutama untuk orang2 yang terlibat didalamnya.
Tentulah perlu digelar biennale atau triennale seni rupa, dalam skala kota atau provinsi, dalam cakup nasional lebih bagus lagi. Sebab aktivitas sejenis biennal adalah bentuk lain dari festival. Sedari jaman Nabi Musa, jaman Firaun, festival telah menjadi ruang untuk saling mengukur pencapaian. Kita melihat prestasi ke belakang untuk dapat mencipta prestasi ke depan, dan itulah yang namanya tolok ukur. Kita membadingkan kreativitas terhadap karya orang lain. Dan kita bisa memancangkan tolok ukur. Siapa yang berhak menentukan tolok ukur? Diri kita sendiri bisa mengukur kemampuan sendiri.
Tetapi resiko dari negara yang begitu besar ini, dengan penduduk yang sangat banyak, dan sikap korup meruyak, segala sesuatu menjadi sulit dilakukan. Selalu ada perdebatan. Namun stukurlah terjadi perdebatan. Sebab jika tidak berdebat, kita ini hanyalah patung yang tidak sanggup melaksanakan biennale atau triennal.
saya pikir bienalle itu masih penting dan perlu di selenggarakan ( tentu secara berkesinambungan), sebagai sebuah perhelatan seni rupa tentu punya sesuatu yang bisa di jadikan target, oleh pelaku didalamnya,minimal buat seniman bisa sebagai ajang pertemuan para, pelaku seni,sejauh mana itu terjadi,,,ya,,, bagaimana kita bisa memetakan dirinya masing-masing didalamnya, tentu dengan kapasitas dan kepentingan yang berbeda,juga pengandaian yang berbeda pula.ini semacam peristiwa tentu tak akan lepas dari kepentingan siapa dan untuk apa.
Iyah,.. kalo ada bentrok tuh kan dah biasa,.. mau dimanapun ada aja,…
mau beli ikan di pasar pun ada bentrok harga.
tapi seumpama,
kalo ada yang orang teriak ga suka baunya ikan seh mending jangan ke pasar kan?
lucunya pedagang ikan kalah ama orang yang ga suka bau ikan,..
mending kalo orang itu beli juga ikannya,.. udah reputasi pedagang ikan ancur diantara orang-orang sekitar gara-gara dikira ikannya busuk,… padahal ikan tuh emang bau,…
ajaibnya mau tutup dagangannya gara-gara dibilang bau,…
yang penting seh, pedagang ikan harus sabar dan tabah, jangan sampe pelanggan setia ikut kabur
akhir-akhir ini, seni rupa jadi penyakit sejenis waham kebesaran, lama kelamaan semakin akut.
kita sebagai pelaku seni rupa sering sekali merasa kita adalah orang hebat, terkenal, orang penting,dll. padahal seniman rupa tak lebih berharga dari bulu ketek kris dayanti atau bcl barangkali.
untuk itu sesekali kita perlu survei bila perlu melibatkan LSI untuk melihat/mengukur (sebagai tolak ukur) kira-kira berapa persen masyarakat yang kenal dengan pelukis.
dikampung saya, 99 orang dari 100 orang mengatakan tidak kenal dengan pellukis sekelas dede eri supria, mereka kebanyakan mengenal affandi atau basuki abdullah. sebagai bahan renungan menurut saya mari kita tampil ke permukaan dengan embel embel yang nggak rumit-rumit deh, ajari masyarakat mengenal seni rupa, pameran juga sampai ke kampung saya di sumatera, hajar mereka dengan perhelatan-perhelatan seni rupa yang membumi. terus terang saya jengah melihat jagat seni rupa di menara gading, seakan akan hanya seniman yang mengerti seni yang ribet itu, yang tampil dengan berbagai macam istilah, bahasa,…..mmbelkedesssss…
wassalam.
bien…trien…nial…isme?
gimane kalok “kolonialisme” aja?
setiap 350 taon sekali!!!
hehehe…
lebih baek terjemahin esei-esei Clement Greenberg dan Harold Rosenberg aja dan disebarin gratis ke kampus-kampus seni kayak ISI Jogja itu biar tambah pinter tuh para perupawan-perupawin dan majulah dunia kangouw seniru(pi)a(h) Indonesia. biar tambah pinter bikin price-tag karya, maksud gua.
hahaha…
Bienal-Trienalnya diperbanyak. dibuat makin spesifik, per media atau per teknik misalnya.
Lokal, internasional boleh saja.
Tingkat provinsi, kota bahkan tingkat kampung knapa tidak?
Oleh pemerintah, swasta/kelompok, perorangan oke-oke juga.
Untuk yunior, senior boleh dicoba biar seperti di Olah Raga ada PSSI usia bawah 18 tahun atau diatas 35 tahun…hahaha.
Nanti juga akan terseleksi mana even yang bergengsi mana yang sekedar penggembira. Even bergengsi akan selalu diminati dan even penggembira pelan-pelan pasti akan ditinggalkan.
perupa tidak perlu cemas.
event itu masih perlu cmn jangan jadi elitis, nggak ngaruh ke kalangan yang luas, coba kerjasama ama kalangan industrialis untuk gencar ngebom ke masyarakat lewat event rutin senirupa d tv kek, jadi nyambung gitu masyarakatnya dan tambah banyak yang ngapresiasi. udh dr sononya kl masyarakat indonesia tuh berbudaya dan artistik tinggal stimulusnya aja infrastruktur senirupa mesti berkembang seiring booming pasar biar tambah maju, amal dikit napa?