Topik 2
Oleh M. Guntur Romli
DI BALIK kontroversi yang marak di seluruh dunia baru-baru ini karena karikatur Nabi Muhammad yang termuat di koran Denmark, Jyllands-Posten, sesungguhnya terdapat perihal yang lebih mendasar, yakni perupaan sosok yang disucikan oleh Islam. Bagaimana sesungguhnya Islam melihat seni, khususnya seni rupa?
Saya kira, seni rupa, dalam hal ini lukisan dan patung, akan selalu bermasalah jika ditinjau dari doktrin Islam dan budaya Arab. Perupaan demikian tidak hanya terbatas pada sosok yang dianggap suci seperti para malaikat dan nabi, tetapi juga pada perupaan makhluk sekecil semut atau nyamuk. Ini terlihat dari beberapa hadis yang bersikap tegas melarang gambar dan patung. Hadis merupakan ajaran Islam yang kedua setelah Alquran.
Misalnya saja sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, “Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di Hari Kiamat adalah pelukis.” Pelukis dan pematung dianggap “menandingi” Allah, dengan “menciptakan” makhluk bernyawa. Ditulis juga dalam hadis itu, mereka akan dipaksa “menghidupkan makhluk itu”; jika tidak bisa, mereka akan disiksa. Dalam riwayat Muslim yang lain, “malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung.” Demikianlah sederet dalil yang biasa digunakan untuk mengharamkan gambar dan patung.
Dalam konteks kelahiran Islam dalam ranah budaya Arab, perupaan dalam bentuk patung erat kaitannya dengan media kemusyrikan. Adapun Islam hendak menegakkan ajaran tauhid dan menghancurkan segala media kemusyrikan itu. Perupaan yang dikenal oleh bangsa Arab ketika Islam lahir tidak bertujuan seni, tapi sebagai kultus dan sembahan.
Yang lebih ekstrim lagi, hemat saya, bangsa Arab waktu itu tidak memiliki budaya dan seni yang bernilai tinggi. Apalagi bila kita bandingkan dengan beberapa peradaban besar yang lahir ribuan tahun sebelum Islam datang, misalnya peradaban-peradaban Firaun di Mesir, Babilonia di Irak, Yunani, Romawi, Persia, Yaman dan Ethiopia.
Kondisi geografis tidak memungkinkan bangsa Arab mendirikan pusat peradaban. Hidup di tengah gurun pasir yang tandus dan terkucilkan oleh bukit-bukit dan lembah yang gersang, mereka hidup nomaden untuk mencari oase dan padang rumput demi mempertahankan hidup.
Sangatlah berbeda dengan peradaban-peradaban kuno yang lahir dan berkembang di tepian sungai-sungai besar. Peradaban Firaun lahir di tepi Sungai Nil, Babilonia di Sungai Eufrat (Furat), India di Sungai Gangga, dan Tiongkok di Sungai Kuning. Jika kita percaya pada teori bahwa seni dan budaya yang berkualitas itu berasal dari taraf kehidupan bangsa yang tinggi, maka bangsa Arab tidak memiliki potensi itu. Kualitas seni yang dikenal oleh bangsa Arab hanyalah seni sastra yang tercatat dalam syair-syair Jahiliyah.
Namun hal itu pun diragukan oleh Thaha Husain dalam bukunya Fî al-Syi’ir al-Jâhilî (Puisi Jahiliyah). Menurutnya, syair-syair Jahiliyah itu bukan berasal dari zaman Jahiliyah pra-Islam, tetapi berasal dari praktik pemalsuan (intihâl) yang dilakukan oleh penyair-penyair bangsa Arab kemudian. Tujuannya memuji kemulian dan kebesaran bangsa Arab. Syair terindah dan terunggul akan diabadikan dengan digantungkan di Ka’bah sebagai penghormatan yang digelari al-mu’allaqât (syair-syair yang digantungkan). Hakikatnya, syair-syair tersebut adalah propaganda untuk menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa Arab memiliki cita rasa seni, sastra dan budaya yang tinggi. Padahal, kenyataannya sungguh bertolak belakang. Inilah paradoks pencitraan bangsa Arab yang dalam Alquran disebut berbudaya Badui yang nomaden, menanam bayi perempuan hidup-hidup, suka berperang, dan memiliki sifat-sifat masyarakat tak berbudaya lainnya.
Bangsa Arab juga tidak mengenal peradaban fisik yang agung. Ka’bah sebagai simbol arsitektur bangsa Arab, tidak menarik secara estetis. Bentuknya hanya kubus dan dibangun dari tumpukan batu-batu. Bahkan ketika Ka’bah mengalami kerusakan, yang merenovasinya adalah tukang-tukang dari Koptik (Mesir). Para tukang itu memiliki kebiasaan bernyanyi dan memukul gendang. Dari mereka itulah, bangsa Arab mengenal lagu dan musik.
Demikian pula Masjid Nabawi di Madinah, yang didirikan dari batang pohon kurma dan tumpukan batu saja. Posisinya berhimpitan dengan rumah Nabi yang hanya dibatasi tirai kain. Bandingkan dengan peradaban Firaun di Mesir dan Babilonia di Irak, ribuan tahun sebelum Islam tiba, yang telah mampu membangun kota dan istana yang megah.
Bangsa Arab pun sudah mengenal seni patung. Tapi janganlah menyamakan itu dengan, misalnya, patung-patung zaman Firaun di Mesir. Patung Arab terbuat dengan pahatan kasar yang tidak memiliki kualitas seni sama sekali. Bahkan Umar bin Khattab yang kelak dikenal sebagai Khalifah kedua itu pernah membuat patung dari adonan kue sebelum dia masuk Islam. Setelah disembahnya patung itu pun dimakannya. Ini sungguh berbeda dengan tradisi patung-patung di tempat lain, yang di samping sebagai obyek pemujaan juga garapan seni. Islam datang tanpa memerikan sumbangsih apapun terhadap dunia seni. Seperti tradisi agama sebelumnya, Islam terpengaruh oleh struktur budaya masyarakat yang didatanginya. Akhirnya karakter Islam juga mengulangi budaya bangsa Arab. Yaitu sama-sama tidak memberi tempat yang layak pada seni. Namun Islam menyumbangkan penulisan, tradisi yang sebelumnya dianggap aib oleh bangsa Arab. Adapun perangkat hukum, ritual keagamaan dari solat, haji, puasa jelaslah berasal dari budaya masyarakat pra-Islam. Hal ini digambarkan secara apik oleh Khalil Abd Karim dalam buku al-Judzûr al-Târîkhiyyah li Syarî’ah al-Islâmiyah (Akar-akar Historis Syariat Islam).
Begitu juga menurut Mohammad Arkoun dalam karyanya Ayna Huwa al-Fikr al-Islâmî al-Mu’âshir (Di Mana Pemikiran Islam Kontemporer?). Menurutnya, Islam hanya mengubah orientasi dari simbol teologis menjadi simbol politis. Hal itu akibat pergumulan dengan ideologi bangsa Arab waktu itu. Sebelum Islam, simbol-simbol teologis tersebut digunakan sebagai alat ketaatan terhadap suku yang diwujudkan dalam berhala (patung).
Islam mengubah orientasi simbolik dari patung (berhala) menuju Tuhan (Allah). Adapun simbol-simbol teologis yang ampuh menundukkan ketaatan masyarakat tetaplah dipertahankan. Secara sederhana pertikaian antara Nabi Muhammad dengan suku-suku Arab merupakan pertarungan politis dengan simbol teologis yang sama. Patung adalah saingan Allah. Fanatisme kesukuaan (al-‘ashabiyah) adalah saingan persaudaraan Islam (al-ukhuwwah al-Islâmiyah). Sementara dukun (al-kâhin) dan penyair (al-syâ’ir) adalah saingan Nabi.
Kapan Islam bersentuhan dengan dunia seni? Menurut Ahmad Amîn seorang sejarawan muslim terkemuka dalam karyanya, Fajr al-Islâm (Fajar Islam), bangsa muslim pada dasarnya tidak mengenal seni, budaya dan peradaban. Mereka mengenal seni setelah keluar dari sarangnya, tanah Hijaz (Saudi Arabia saat ini). Islam baru bersinggungan dengan seni rupa, musik, dan arsitektur setelah menguasai pusat-pusat peradaban dunia pra-Islam. Terutama pada masa Dinasti Umayyah di Damaskus (Siria) dan Dinasti Abbasiah di Baghdad (Irak). Demikian juga tradisi-tadisi keilmuan Islam seperti tafsir, hadis, fikih, ilmu kalam (teologi), dan tasauf, yang disusun dan dikodifikasikan karena pengaruh dari peradaban-peradaban lain.
Setelah Islam menguasai pusat-pusat peradaban, pendapat ekstrim yang melarang seni tidak lagi populer. Sebab, pemimpin-pemimpin politik yang berasal dari dinasti-dinasti Islam sangat menikmati kehidupan seni yang sekuler. Dinasti Umayyah memiliki peranan dalam mengembangkan tradisi-tradisi keilmuan Islam, mulai dari tafsir, hadis, fikih, dan penerjemahan filsafat Yunani. Mereka juga menikmati kehidupan seni musik, tari, rupa dan lain-lain. Dinasti Abbasiah sesudahnya adalah zaman keemasan, dan menjadi pusat peradaban dunia waktu itu. Sedangkan ulama agama yang ekstrim tidak berani menolak terang-terangan meskipun mengutuk secara diam-diam kehidupan penguasa Islam yang sekuler itu.
Jadi setelah merunut doktrin dan sejarah awal Islam, kita bisa menyimpulkan bahwa mencari pembenaran terhadap seni rupa dalam doktrin Islam adalah pekerjaan sia-sia. Namun bukan berarti perupaan terhadap Nabi tidak ada sama sekali. Penggambaran Nabi, baik dengan wajah terbuka ataupun dengan tertutup, nantinya ditemukan di kawasan Persia, Turki dan Asia Tengah. Perupaan tersebut merupakan “keusilan” para seniman yang hidup di alam sekuler, yang berasal dari luar tanah Hijaz (Arab), ataupun yang telah menjadi seniman sebelum masuk Islam. Misalnya sebuah lukisan yang dibuat pada 1315 di Tabriz, Persia (Iran), menggambarkan Nabi Muhammad tengah mengambil Hajar Aswad (Batu Hitam) dari selembar kain yang empat ujungnya dipegang oleh masing-masing kepala suku besar di Makkah. Cerita itu berasal dari kitab sejarah Jâmi’ al-Tawârikh karya Rasyid al-Dîn. Sedangkan manuskrip gambar itu saat ini berada di perpustakaan Universitas Edinburgh Inggris. Lukisan-lukisan lain yang menggambarkan sosok Nabi dengan wajah terbuka ditemukan di Bukhara (Uzbekistan) dan Herat (Afghanistan). Sedangkan lukisan sosok Nabi dengan wajah tertutup berasal dari perkembangan seni rupa dan arsitektur Dinasti Utsmaniyah di Turki.
Kaligrafi yang sering diklaim sebagai seni Islam itu sebenarnya berasal dari tanah Persia. Sementara itu, mayoritas intelektual muslim yang menulis tafsir, hadis, tasauf, dan sains, bukanlah orang-orang Arab. Sebut saja al-Bukhari, Muslim, al-Ghazali, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Razi, al-Khawarizmi, al-Jabar, al-Haytsam, dan lain-lain. Bahkan ahli bahasa Arab yang terkenal sekalipun, al-Sibawih, bukanlah orang Arab. Sangatlah mengherankan bila ada ajakan untuk kembali ke zaman Nabi, Khulafaa al-Rasyidin, dan era salaf a-shâlih (orang-orang terdahulu yang salih). Sebab itulah ajakan untuk kembali pada era masyarakat yang terbelakang. Marilah kita menyadari bahwa seni yang sering diklaim sebagai seni Islam bukanlah berasal dari ajaran normatif Islam, tapi dari sisi-sisi historis Islam. Bukan Islam sebagai sebuah agama an sich, tapi Islam yang telah berinteraksi dengan berbagai peradaban pra-Islam.
Tulisan ini sebelumnya dimuat oleh: Koran Tempo rubrik Seni 26 Pebruari 2006
memang, islam bukanlah arab. Al qur’an sendiri masih merupakan sebuah perdebatan, apakah mitos atau sebuah sejarah faktual. jadi, semua agama tidak mengenal seni. masyarakatnya yang mengenal. masih bisa diperdebatkan, apakah bentuk kubus dari ka’bah itu seni atau bukan? apakah tirai dan bangunan sederhana bukan berarti seni? lantas tidak pula menjadi adiluhung? ingat, perangf pertama yang dikumandangkan muhammad adalah perang menghadapi politisme, perang terhadap pemujaan ikon-ikon pagan, yang isa dikatakan seni patung saat itu (seperti halnya ibrahim). jadi masih bisa diwacanakan lagi, apakah memang sebuah agama harus mengenal seni? dus berarti penganut agama tersebut punya beradab karena berseni? lihatlah peninggalan2 kristen, siapa yg membuat ikon2 tersebut? apakah agama atau kebudayaan itali? coba deh kita diskusikan lagi.
salam.
Sejujurnya saya tidak paham benar apakah memang setiap agama itu membahas permasalahan seni secara khusus disetiap ajaran yang dibawanya. Mungkin tidak secara tersurat, tetapi tersirat. Jelas iya!. Setiap agama pasti mempengaruhi seni dan kebudayaan terutama tempat dimana agama tersebut diturunkan. Bukankah agama Islam mengenalkan ajarannya melalui keungulan bahasa sastra Al-Qur’an untuk menarik perhatian masyarakat jazirah arab saat itu yang tentu sangat terkenal dengan karya sastranya. Bahkan tantangan diberikan kepada siapapun yang mampu menandinginya baik dari keindahan bahasa maupun makna yang tersirat didalamnya. Apakah sastra bukan seni?
Untuk kelanjutannya agama digunakan para pengikutnya sebagai inspirasi ataupun sebagai bukti kesyukuran akan segala kenikmatan yan telah diterimanya, sebagai bentuk persembahan untuk Pencipta keindahan. Tentu saja jikalau saya adalah Tuhan-pun, saya tidak akan membahas masalah seni begitu detail didalam kitab yang saya tulis. Mungkin Tuhan tidak mengangap seni permasalahan yang begitu krusial hingga harus terlarut didalamnya, mungkin itu sudah jadi tugas manusia sebagai wakil-Nya di Bumi. Karena jika masalah seni jelas hukumnya dalam agama pasti manusia tidak akan jadi kreatif lagi, takut dosa kalau menyimpang sedikit dari ajaran terutama bagi mereka yang fanatik.
Jadi nikmati saja ketidakjelasan ini sebagai suatu berkah, jadi kita bisa eksplorasi sepuasnya tanpa harus dibayang-bayangi dengan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu.
Menurut saya membahas agama berkaitan dengan seni atau seni terhadap agama merupakan masalah yang sampai sekarang belum menemukan titik yang bertemu. Karena agama membahas tentang kepercayaan kita terhadap apa yang kita sembah atau percayai, sedangkan seni membahas tentang apa yang kita rasakan untuk dirasa.
Untuk melihat apakah islam mempunyai seni rupa apa tidak menurut saya semua agama tidak mempunyai seni rupa, dikarenakan agama adalah kepercayaan yang dimiliki manusia dengan kitab dan tuhannya dan seni adalah hasil dari rasa cipta manusia yang menimbulkan karya atau mungkin taraf yang lebih tinggi yaitu budaya. Jadi apakah dia tak bertuhan apa tidak, beragama apa tidak, seni akan lahir dari sisi manusia, dan dengan perkembangannya maka seni akan lebih terlihat memihak karena kepercayaan yang dianut oleh manusia tersebut, untuk bentuk terima kasih terhadap kepercayaannya.
Saya ingat akan hal Leonardo Da Vinci dalam menggambar lukisan benda hidup menyerupai aslinya dan gambar dia lainnya, yang saat itu agama kristen tidak membolehkan menggambar benda hidup juga. Akan tetapi bila dilihat dari dosa maka manusia sudah mendosa sampe sekarang ini, seperti dokter bedah yang mempelajari gambar organ dalam tubuh manusia.
Jadi menurut saya agama dan seni tidak akan bisa ditemukan titik penghubungnya.
kenapa seh tulisan macam gini dimunculin di sini!
setiap teks selalu punya konteksnya, konon kata orang pinter dan aku kutip aja di sini. nah konteks dari teks di atas adalah latarbelakang si penulisnya! kalok seseorang itu benci seni, maka kebencian itu harus diperhatikan dalam teks yang dia buat. kalok seseorang itu benci “Islam”, maka hal yang sama jugak harus diamati.
neo-orientalisme sudah masuk ke dunia kangouw pemikiran Indonesia lewat imperialisme ekonomi Paman Sam, disuburkan oleh para kompradornya terutama di Jakarta. neo-orientalisme ini sangat gerah dengan pemikiran “pembela Islam” semacam Edward Said…
singkat cerita: jauh lebih bermanfaat memposting tulisan orang-orang macam Edward Said, atau Hamid Dabashi, ketimbang tulisan-tulisan para neo-orientalis lokal! kita perlu pencerahan, bukan penjajahan lagi kan!!!
biar jangan dibilang “fitnah”, silahkan dibaca tulisan di link di bawah. ini tentang “Islam and Art”.
http://www.counterpunch.org/farhat03252006.html
ini eseinya, kalok gak bisa dimasukin situsnya. enjoy!!!
============
CounterPunch, Weekend Edition
March 25 / 26, 2006
MoMA’s Without Boundary Exhibit
Contemporary “Islamic” Art in Context
By MAYMANAH FARHAT
In the current wave of heightened interest in Islam and the Middle East, the Museum of Modern Art in New York presents Without Boundary: Seventeen Ways of Looking.
The exhibition opened February 26, 2006. The work of fifteen artists born in the Middle East, North Africa and South Asia is featured in an attempt to shed light on the classification, production and discourse of contemporary “Islamic” art. The artists of Without Boundary live and work in Europe or the United States but remain connected to their native countries in varying degrees.
According to the exhibition’s curator, Fereshteh Daftari, in a catalog essay titled “Islamic or Not,” “The application of a term without clear definition to artists exhibiting in the global mainstream needs closer scrutiny.” She articulates that the term “Islamic” is, “loaded with political and religious subtexts, and yet it has been applied to artists who would not necessarily use it to describe their own work, who do not live permanently in Islamic areas, and who produce art for European and American art spaces in which Muslim visitors are only a fraction of their audience.”
Daftari attempts to test the validity of the term “Islamic” and the shortcomings of such classification by exhibiting and examining the work of artists considered at the forefront of contemporary art. The exhibition features the work of Jananne Al-Ani, Ghada Amer, Kutlug Ataman, the Atlas Group/Walid Raad, Mona Hatoum, Shirazeh Houshiary, Pip Horne, Emily Jacir, Y.Z. Kami, Rachid Koraïchi, Shirin Neshat, Marjane Satrapi, Shirana Shahbazi, and Raqib Shaw and Shahzia Sikander. In addition, the works of American artists Bill Viola and Mike Kelley are included to “further provoke” the question, what is contemporary Islamic art?
The exhibition is divided into three subtopics through which Daftari aims to address the definition of contemporary Islamic art. She does so through the artistic examinations of formal attributes, questions of identity, and explorations of faith. Such attributes, Daftari argues, are recognized by the West as characteristically “Islamic.”
Daftari outlines the artistic parallels that connect the seventeen artists as being based on a tie, “not in ethnicity or religion, but in their way of revising, subverting, and challenging the aesthetic traditions they deal with and of bringing preconceived notions of cultural homogeneity to ruin.” She is correct in her assessment of the term and current art historical discourse and while the work of Without Boundary does revise and challenge conceptions of “Islamic” aesthetic traditions, the exhibition as a whole fails to bring preconceived notions of cultural homogeneity to ruin.
Art in all societies is not produced under isolated circumstances. A more acute observation revels that art is in fact often a direct reflection of society. This connection is highly visible in the works of Without Boundary, which possess underlying themes of social commentary. The society which the artists comment on is the “Islamic” world. This aspect of the exhibition is perplexing in the sense that the artists are presented as living and working in the West and impacting Western culture and society. Daftari aims to expose the drawbacks of classifying these artists and their work under the one dimensional term “Islamic,” yet through the exhibition the artists are only allotted the opportunity to comment on “Islamic” society. If the artists of Without Boundary do in fact represent an emerging trend in the mainstream Western art scene where they are no longer seen as “other” and their ideas are able to move freely across national, cultural and societal borders, then why aren’t they provided the forum to comment on this society in which they live?
In order to deconstruct the Western classification of contemporary “Islamic” art, as Daftari first suggested, one must begin by answering several questions regarding issues that affect the West and its subsequent shaping of the mainstream art world and art history. What definitions characterize the term “Islamic” when it is used by academia, institutions and galleries of the mainstream art world? How have such definitions influenced the type of reception contemporary “Islamic” artists receive? As social agents of culture, how do the actions of academia, institutions and galleries reflect Western conceptions of the “Islamic” world and the greater political and economic policies of the West towards “Islamic” nations?
Such questions remain unaddressed by Without Boundary. Instead, the work in the exhibition is positioned within an explicit agenda, one determined by Western-centric tendencies and American political rhetoric. Unable to discard the influence of such framework, Without Boundary and the discourse accompanying it, provide little evidence of having transcended preconceived notions of “Islamic” cultural homogeneity.
Despite the fact that Daftari initially outlines in the catalog essay the need for reexamination of the term “Islamic,” the most significant and obvious pitfall of the exhibition is the fact that the origins of prevailing preconceived notions are left unexplored. She deliberately avoids addressing American and European influence and activity in the Middle East and Central Asia over the past century and the direct link between such sociopolitical issues and the definition of the term.
In regards to immediate history, Bush’s “War on Terror,” the violent occupations of Afghanistan and Iraq, and the subsequent political and economic consequences that have affected several “Islamic” nations and their expatriates are completely ignored. Such consequences are directly tied to current and past perceptions of the “Islamic” world by academia and the American public. In spite of this context, Without Boundary presents its audience with an exhibition that refuses to acknowledge that its conception reflects an increasing interest in the Middle East and Islam that is tied to American military and economic dominance.
The discourse surrounding the exhibition not only avoids these realities but actually propagates the exact notions of the “Islamic” world Daftari initially set out to combat.
Two prime examples of this discourse are a catalog essay, “Another Country” written by Homi Bhabha, and the editorial, “Gained in Translation” written by Glenn D. Lowry, the director of the Museum of Modern Art, for ARTnews Online.
Although Lowry and Bhabha intended to place the work of Without Boundary within discussions of profound contemporary visual art, broad generalizations are made that obscure fact and reality, subsequently supporting the idea that the “East” or “Islamic” world is characterized by nothing more than dictatorships, backwardness, religious conservatism and homogeneity. Through such characterization, the “multidimensional” nature of the art work in Without Boundary is then attributed to the mere fact that the artists have lived and worked in the United States and Europe, insinuating notions of Western cultural, academic, political and economic supremacy.
These notions work to maintain art of the “Islamic” world as secondary to its Western counterpart. In “Gained in Translation” Lowry includes a discussion of the individual pedigrees of each artist, emphasizing that the artists of Without Boundary are “part of a sophisticated and growing population of émigrés from the Islamic world who live in the West.” He affirms that they are, “well educated and come from mostly solidly middle- or upper-class families.” What are the intentions of his discussion of class and education? Must the director of MOMA justify exhibiting “Islamic” artists through such standards? He then enunciates that the artists discussed “form a counterpoint to the disenfranchised, often poorly educated, and marginalized Muslims living in France, Germany, and England.” By doing so, he assures readers that MOMA and the mainstream art world are not straying from bourgeois qualifications that equate “sophistication” and intelligence with high economic standing.
Lowry’s statements beg several questions. Why are there disenfranchised, poorly educated, and marginalized Muslims in France, Germany and England? What historical and political events have taken place affecting such a large demographic that is scattered from its native countries? To have a counterpoint to such populations is to imply an imbalance in educational and economic standing. Who or what is responsible for such imbalance?
Lowry leaves these statements unqualified. Instead, September 11th is evoked to detract from dealing with these pertinent issues, despite the fact that they are instrumental in how “Islamic” cultures and communities are perceived. Lowry writes, “the problem of defining oneself in this world is extremely difficult, especially in the wake of the terrorist attacks first in New York City and Washington, D.C., and later in Madrid and London, and the invasions of Afghanistan and Iraq.” Lowry’s evocation parallels the distraction tactics of the American media via the condemnation of “Islam.” Fueled by the “War on Terror,” the entire “Islamic” world is held accountable for recent attacks on Western targets, which then justifies American military action in the Middle East and Central Asia.
Lowry continues his analysis through the archetypical Orientalist lens that uses broad generalizations to distinguish the “Islamic” world as completely “other” in contrast to the West; “given the conservative nature of many Islamic countries-with their restrictive policies concerning freedom of expression, political activism, nudity, sex, religious debate, and homosexuality, among other social and cultural issues-they offer difficult, even impossible environments for artists who make challenging artIt is largely for this reason that all of the artists under discussion live and practice primarily outside their countries of birth.” Ironically, the “restrictive policies” Lowry attributes as being specifically “Islamic” are the exact topics in question in the continuing battle concerning American civil liberties. No mention is made of the fact that artists in America are living and working under the Bush administration’s deliberate political attack on freedom of expression, political activism, and freedom of sexuality.
With such statements, Lowry places Western societies, religions and governments as superior to “Islamic” counterparts. He even goes as far to state that some Muslims, “acknowledge the democratic systems of the West but struggle to balance that appreciation against a religion that they feel leaves little room for liberal values.” What are the “liberal values” Lowry is referring to? Are they the exact American “liberal values” currently in question in the U.S.?
Like Lowry, Bhabha’s analysis of the exhibition is also determined by prevailing notions. He begins his catalog essay by affirming that a discussion of Islam today invokes “the age of terror,” what he describes as, “the calling up of the Abu Ghraib album, the televised beheading of an American businessman, and many other entries in the musee macabre of war and terror.” With such a statement, the “Islamic” world is portrayed as the perpetrator of mass violence that has made its way into the global psyche. The events associated with current invocations of Islam are described as though they occurred in isolated circumstances; “war and terror” are not contextualized in the greater scheme of contemporary history.
The “musee macabre of war and terror” images Bhabha speaks of are directly tied to the American invasion and occupation of Iraq, yet there is no discussion of this. Bhabha stresses that the artists of the exhibition, “offer us a way out of the prison house of the culture of torture and ’security’.” One can argue that without discussion or exploration of the origins and affiliations of such preconceived notions of “Islam today” the work showcased in Without Boundary offers not a way out for viewers but an escape from the reality of American presence in the “Islamic” world. In order to shed what Bhabha calls “the prison house of the culture of torture and ’security’,” viewers must be engaged within a discussion of the current state of affairs we face in the polarized “West vs. East” global society, which is directly responsible for such a “prison house.”
Bhabha’s analysis of Mona Hatoum’s Keffieh, 1993-1999, continues to support Western predominant notions of Middle Eastern and “Islamic” cultures. “The keffieh–the cotton headscarf worn by Middle Eastern men–has developed a macho aura in the Palestine culture of political resistance.” He goes on to state, “the macho style is an externalized response to the powers of oppression and domination; but it is also a form of domination turned inward, within the community, poised against the presence and participation of women, whose voices are repressed or sublimated in the cause of the struggle.” Bhabha’s statement completely obscures the reality of the Palestinian struggle in which women are active, if not central, participants of the self-determined political movement of their people. Additionally, within Palestinian visual art, literature, and culture in general, the female figure often lends way to allegorical representations of homeland, equating women as the most revered embodiment of the struggle.
To associate the keffieh with oppression and male dominance is to dispel the need for an examination of the larger sociopolitical picture. Bhabha’s analysis steers the discussion of the violation of an entire people towards an internal issue of gender. Such an analysis is similar to examples of Western discourse which focus on the oppression of women in the Middle East and the “Islamic” world, while ignoring the need for an examination of the broader political and economic oppression that has resulted from the actions of regional, American and European governments.
Without Boundary and the discourse surrounding the exhibition demonstrate the desperate need for an extensive and critical examination of the mainstream art world. Art historical definitions used by academia, institutions and galleries remain imbedded in the cultural and social hierarchies that have resulted from the colonial and imperial geopolitical policies and activities of Western nations in Latin America, Asia, the Middle East, Africa and the Pacific Islands. These policies have been primary factors in the denigrated classification, documentation and representation of art and visual culture created by non-Western populations. The political, theological, ethnic and class biases of institutionalized art activity today must be held accountable for defining non-Western cultures as inferior.***
Maymanah Farhat writes about Modern and Contemporary Arab art for ArtEast. She can be contacted at sccheeto@yahoo.com
silahkan juga cek situs tentang dunia Arab dan Seni di bawah ini:
http://www.arteeast.org/
saya muslim, tiap hari sholat. kadang puasa senin kamis. saya juga bertato… tampang saya ga ada sangar2nya. so what dy think ???
Kontroversi soal seni rupa dalam islam gak bakalan ketemu ujungnya kalau yang bicara maupun yang menanggapi sama-sama ‘kwekeh’ dengan pemahamannya sendiri. Nah kalo saya ta’ iye, berpendapat : Islam adalah agama besar yang sangat universal dan karena sangat universalnya itu sampai-sampai denyut nadi dan seluruh nafas kita haruslah juga Islam. Jadi kalau nabi Muhammad melarang penggambaran sesuatu yang bernyawa pada saat itu ya kita lihat dulu dong kontek zamannya, kata kiyai kalau mau memahami surat (Al-Qur’an) pahami juga asbabun nuzulnya supaya kita gak kesasar alias jangan memahami sesuatu secara leterleg bisa jumut nanti. Menurut saya Islam tidak akan menjadi kecil hanya karena masalah seni rupa demikian juga juga sebaliknya. Tetapi Islam juga tidak melarang segala sesuatu (ibadah muamalah) sepanjang tidak bertentangan dengan syariatnya. Islam sangat keras melarang sesuatu yang ditambah-tambahkan dalam ibadah ritual. Itu aja patokannya, gampangkan? Akan halnya seni (seni apa aja deh) sepanjang tak melanggar rambu-rambu syariat ya boleh boleh saja toh. Soal bentuknya, realis, suryalis, naturalis, dalam seni rupa. Atau rock, metal, jazz, dangdut, nasyid dll dalam musik, pokoknya apa aja deh sepanjang gak porno, gak intimidasi, gak mengarahkan orang ke hal negatif, gak bertujuan
kejahatan intelektual dan konco-konconya, , walah…ya boleh toh. Justru dengan musik yang elegan, dengan lukisan menawan dan punya kedalaman yang mengarahkan orang pada kebesaran Sang Pencipta, bersifat dakwah, wah itu bernilai ibadah sangat tinggi, bukan begitu ya pak Lik? Jadi kalau kita pelukis beragama Islam yaitu pahamnya, jangan keluar dari pemahan hukum Islam, lebih bagus kalau ART for TAUHID ! ( Sorry, bukan ART for ART) easygoing aja gak usah ruwet ruwet. Nah teman, itu paham saya saat ini, yang lain mo beda ya monggo aja kan.