Pancaran dari Pusat Asia
Saat ini China dengan cepatnya menjadi pusat baru berbagai aktifitas seni rupa kontemporer dunia. Museum – museum didirikan , galeri – galeri dan balai lelang menjamur, studio – studio dan distrik seniman bertebaran. Menawarkan suguhan atraktif bagi banyak pelancong khusus, pedagang, seniman dari luar negeri. China adalah tontonan (spectacle) . Rupanya pemerintah China juga telah mencium potensi seni rupa kontemporer bagi ekonomi negara. Gedung-gedung terbengkalai mulai difungsikan untuk aktifitas seni, museum kontemporer dibangun.
Hiruk pikuk artworld di Cina, bahkan kemudian membuat beberapa museum dan galeri dari Eropa dan New York berniat membuka cabangnya disana. Isunya Guggenheim dan Tate Modern tertarik buka cabang. Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh pemerintah China kepada para investor seni benar – benar membawa dampak luar biasa. Luo Fahui, perupa yang pernah pameran di Jakarta mengungkapkan pada saya: “ pemerintah mencanangkan mendirikan 1000 museum, tetapi yang jadi masalah besar bagaimana mereka (pemerintah) mengisinya tiap museum itu ”.
Tetapi harus diketahui, bahwa di China sekarang ada banyak perguruan tinggi seni, yang menghasilkan ribuan lulusan tiap tahun. Artinya akan ada ratusan seniman berbakat tiap tahun yang bakal muncul, dan menjadi seniman di China mempunyai keistimewaan tersendiri. Enin Supriyanto dan Aminudin T.H. Siregar , para pengamat yang pernah menyoroti gejala ini di majalah Visual Arts. Pada kesimpulannya mereka berpendapat bahwa , kesuksesan seni China saat ini karena belakangan ada dukungan dari pemerintah kepada perkembangan infrastruktur seninya, seperti juga di bidang teknologi dan industri.
Dengan menerapkan kebijakan-kebijakan tertentu, yang melibatkan peran aktif para pengusaha dan individu untuk ikut serta berpartisipasi dalam strategi kebudayaan. Walaupun rezim Komunis China, hingga kini masih anti pada yang namanya kritik, tetapi yang menyangkut soal kemajuan ekonomi, mereka sangat mendukung.
Nah, bagaimana pendapat anda tentang fenomena ini terutama menyangkut “startegi kebudayaan nasional Indonesia” dimasa depan? ( Rifky Effendy)
Saya meng-quote “kesuksesan seni China saat ini karena belakangan ada dukungan dari pemerintah kepada perkembangan infrastruktur seninya, seperti juga di bidang teknologi dan industri”.
Saya tambahi, Cina juga sangat piawai menjual hasil karya rakyatnya.
Sementara Indonesia adalah pasar yang sangat potensial bagi Cina sejak 50 tahun yang lalu. Apa produk Cina yang tidak ada di Indonesia?
Bayangkan, dari isi stapler, peniti sampai motor….
Sekarang, ada baiknya kita kembali (bukan ke laptop) ke “local wisdom” yang kita miliki. Pertanyaanya … “apakah pemerintah memberikan anggaran yang memadai untuk mengembangkan local wisdom kita”, contohnya, kapan “PASAR TRADISIONAL” diper’modern’ sehingga konsumen menjadi nyaman berbelanja? Dan barang-barang lokal bisa agak naik sedikit harganya???
Tahukah Anda, bahwa di lantai dua pasar beringharjo, Anda bisa mendapatkan barang kerajinan dengan harga yang sangat sangat murah? hampir 30% dibawah harga barang kerajinan yang sama ketika dipajang di ARTSHOP???