Hal Lain dari Seni Rupa Pertunjukan (Performance Art)
Baru-baru ini terjadi galagat yang cukup menarik untuk disimak oleh praktisi seni rupa, khususnya yang berkecimpung dalam performance art. Ada beberapa pameran diselenggarakan , terutama yang menampilkan seniman China, oleh Vanessa Artlink. Pertama pameran dua seniman, Luo Fahui dan Yuji, pada bulan Desember lalu. Di awal tahun juga Vanessa menampilkan perupa Cang Xin. Yang menarik dari dua pameran ini adalah menyertakan dua perupa pertunjukan. Yu Ji dan Cang Xin, dua nama yang cukup dikenal di China, dan dalam pamerannya kali ini, mereka tidak melakukan pertunjukan. Mereka menampilkan puluhan foto-foto dokumentasi atau hasil rekayasa, dari beberapa pertunjukan yang telah mereka lakukan. Foto (video atau karya rupa) seni rupa pertunjukan dari China, bukan hanya menunjukan perkembangan praktek seni rupa kontemporer disana saat ini. Tetapi juga pada hemat saya, ada suatu infrastruktur yang sedang tumbuh, dan belum terperhatikan dalam praktek seni rupa kontemporer tanah air.
Akhir tahun lalu, secara kebetulan seorang pengamat SRP China, kelahiran Belanda, Dr. Thomas J. Berghuis, mengadakan loka karya bersama beberapa kurator muda, di Bandung. Ia baru saja menerbitkan buku hasil risetnya selama 6 tahun, berjudul “ Performance Art In China”. Menurutnya, bila kita membicarakan seni rupa konseptual China, mau tak mau harus memperhatikan praktek SRP. Karena ia menganggap, selain berbagai latar belakang pengaruh sosial – politik dan perkembangan lokal yang radikal , tetapi bahwa juga muncul kesadaran baru. SRP pada dasarnya adalah aksi tubuh dalam seni rupa yang berperan sebagai media ungkap, atau “the role of the mediated subject of the acting body in art,”. Dalam artian, bahwa tubuh selalu hadir dalam praktek seni rupa juga sebagai penampakannya (subsequent), representasi sekunder dalam medium seperti fotografi, video, bahkan lukisan.
Berghuis disini sangat membedakan dengan tegas SRP dengan SR kejadian (happening art). Walaupun seringkali disalah – pahami, SRP adalah cara tubuh beroperasi dalam ruang yang butuh kematangan dalam perencanaan dan pengaturan; apakah itu mencakup fungsinya dalam ruang, dan pengelolaannya di ruang tersebut. Kesuksesan SRP China bukan hanya mengartikulasikan tema-tema fantastis dan radikal, namun juga bagaimana aksi tubuh tersebut, secara eksplisit ditampakan melalui medium fotografi dan video, bahkan tubuh sering menjadi bagian dari suatu karya instalasi. Maka SRP China menjadi penting karena menjadi kelanjutan dari wacana seni rupa kontemporer, selain praktek seni lukis maupun instalasi. Oleh sebab itu, para seniman SRP sering disertakan dalam pameran-pameran atau dalam publikasi buku-buku ke seluruh dunia. Tentunya ada segudang nama seniman SRP di China, katakanlah Ma Liuming, Zhang Huan , Zhu Ming, dan lainnya.
Namun gejala dalam produksi SRP, bukan hal yang baru. Dalam sejarah perkembangan di Eropa dan Amerika Utara misalnya. SRP telah dimaterialisasikan. Kelembagaan seni telah mengembangkan sistem kerja, “ kolaborasi” untuk menghasilkan produk artistik. Karena bagaimanapun, SRP merupakan aksi tubuh yang sangat bergantung pada konteks ruang dan waktu. Pendokumentasian, produksi artefak SRP , kemudian menjadi penting dan telah berlangsung sejak – mulai dari kelompok Dada, Bauhaus, Fluxus, atau Yves Klein, Manzoni, Beuys, Jim Dine, hingga Gilbert – George. Memang terjadi ke-ironis-an, dimana pada awalnya SRP digunakan para seniman untuk melawan komersialisasi, dan hegemoni lembaga galeri. Seniman awal SRP, berusaha mendudukan kembali gagasan sebagai suatu yang paling tinggi, sebagai pengejewantahan dari eksistensi seniman modern, sebagai gerakan kaum kiri, dan ekstensi dari gerakan seni rupa konseptual. Tetapi pada akhirnya, dalam kenyataan perkembangan teori dan kelembagaan seni rupa modern, mengharuskan karya-karya SRP didokumentasi secara baik. Terutama banyak lembaga museum dan akademi pendidikan, maupun pameran-pameran, serta publikasi membutuhkan materi, atau bentuk fisik untuk kepentingan arsip maupun presentasi.
Dokumentasi SRP, berupa fotografi, rekaman film dan video, atau kertas-kertas kerja para seniman dikumpulkan, di kemas dalam sebuah pameran maupun materi publikasi. Bahkan kemudian, beberapa museum dan kolektor, membeli arsip-arsip dengan harga tinggi. Maka terjadi ironi, Gilbert and George, diawal tahun 70-an, mungkin yang mengawali, menggunakan medium artistik foto, grafis maupun patung sebagai ekstensi dari aksi yang mereka lakukan. Sebagai kemungkinan bentuk “dokumentasi” untuk diperdagangkan dan dimiliki oleh para kolektor. Hal ini juga mengawali suatu gejala dimana, mitos bahwa seniman modern bekerja secara individual, unik, self-center akhirnya pupus. Produksi seni rupa kontemporer termasuk SRP, menurut kritikus Kristine Stiles, dalam ulasannya tentang Performance (Nelson & Shiff,2003: 88) mengemukakan, bahwa didekade 1980-an, istilah “performance” mulai menyajikan karya beragam dengan bentuk estetik, dari produksi hingga presentasi,serta penafsirannya. SRP menjadi sebagai suatu kategori dalam visual display, hal ini memberi hal baru bagi aspek komersial seni rupa.
Dengan munculnya berbagai teknologi reproduksi, seperti kamera dijital, video, rekayasa komputer maupun internet. Banyak juga seniman SRP mengembangkan konsep aksi tubuh dengan unsur teknologi. Sterlac, seniman SRP ternama asal Australia, dan Yasumasa Morimura dari Jepang, bahkan telah mengembangkan konsep tubuh kedalam konstruksi rekayasa teknologi. Begitupun penggunaan strategi presentasinya , mereka mencoba dan bereksperimen dengan mendomestifikasi tubuhnya melalui ruang-ruang virtual, yang bisa diakses oleh internet, permainan game, maupun dalam bentuk kepingan DVD.
Wacana SRP di tanah air, sebenarnya dimulai hampir sama dengan perkembangannya di China. Praktek SRP pada masa awal juga penuh kontroversi dan kecenderungan sebagai estetika perlawanan pada nilai-nilai yang mapan dan menghegemoni kehidupan sosial-politik. Bahkan hingga saat ini SRP masih sering dipraktekan , walaupun cenderung menjadi suplemen dalam sebuah pameran maupun peristiwa. Pada dekade 1980-90 an kita mengenal nama-nama Arahmaiani, Dadang Christanto, Marintan Sirait, Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, hingga kemudian Iwan Wiyono. Aksi tubuh mereka juga kadang dilakukan menjadi bagian dari karya instalasinya, seperti Dadang, Tisna dan Marintan. Sedangkan Isa Perkasa, Arahmaiani dan juga Tisna, menjadikan aksi tubuh sebagai inspirasi bagi karya-karya drawing, grafis dan lukisannya. Secara konseptual, bisa dikatakan mereka telah memiliki ketajaman dan kekuatan, terutama berkaitan dengan penafsiran kedalam karya-karya lainnya.
Tetapi mengapa praktek SRP kini terasa mandek , dan tak begitu riuh seperti di dekade 90-an. Bahkan aspek SRP tidak banyak mendapat tempat dalam beberapa peristiwa seni yang besar akhir-akhir ini. Walaupun ada beberapa seniman muda, yang masih tertarik dan mengembangkan aksi tubuh SRP kedalam wilayah artistik media baru. Namun masih miskin penjelajahan tema, pengelolaan dokumentasi dan pemahaman untuk membawanya pada tingkat wacana yang lebih luas. Ihwal bentukan artistik yang mempresentasikan aksi tubuh memang hal lain dari praktek SRP. Tetapi soal bentuk presentasi menjadi sangat penting dalam strategi menampilkan gagasan-gagasan tentang konsep tubuh itu sendiri, secara mendalam. Fotografi dan video memberikan kemungkinan yang cukup besar untuk itu. Atau malah gagasan itu yang tak lagi muncul? (Rifky Effendy)