Tentang Pameran
Baru – baru ini banyak pameran dengan lingkup Media Baru, bahkan beberapa pameran melibatkan lintas disiplin, seperti pertunjukan musik. Silahkan mengajukan opini dan berbagi disini.
Anda ingin mengulas pameran? silahkan ungkapkan di halaman berikut ..klik halaman Ulasan Anda
This page has the following sub pages.
Kayaknya sih pameran model begini nggak baru-baru amat. Dari catatan yang saya punya, integrasi lintas disiplin itu udah banyak terjadi. Apakah waktu zaman Gerakan Seni Rupa Baru, Puisi Mbeling, Puisi Aksi, dsb. Di Bandung, salah seorang seniman yang getol mempraktikan aktifitas seni lintas disiplin salah satunya mungkin almarhum Harry Roesly. Di beberapa pertunjukan yang dia bikin, secara sengaja dia suka melibatkan disiplin seni rupa, teater dan pertunjukan musik. Jadi sebetulnya pameran yang menampilkan karya-karya multi-disiplin itu nggak baru-baru amat.
Sementara itu perkembangan media baru kalo menurut saya sih punya alur sejarahnya sendiri. Buat saya, perkembangan wacana seni media (baru) lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ketimbang wacana seni rupa. Dari penelitian yang saya bikin tahun lalu, keliatan banget kalo wacana seni rupa (di Indonesia) ternyata paling gagap teknologi (gabtek) dan nggak punya pengaruh secara langsung terhadap perkembangan praktik maupun wacana seni media. Bahkan almarhum Sanento Yuliman sudah meramalkan sejak jauh-jauh hari bahwa suatu saat seni yang berbasis komputer dan teknologi digital bakal jadi sebuah praktik artistik yang berkembang secara otonom. Eh, ternyata ramalannya kejadian tuh. Hebat juga doi
Hehehe..ini menurut saya loh yaaaaa.
Salam,
-Gustaff
http://www.projektheterologia.wordpress.com
ps: kalo ada yang tertarik baca paper penelitian saya tentang perkembangan seni media di Indonesia bisa baca di buku Apresiasi Seni Media Baru terbitan Disbudpar (2006). Judulnya “Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Praktik Seni Media di Indonesia”. Kalo ada yang mau versi digitalnya sabar ya. Papernya baru selesai diterjemahkan dan sedang diedit. Mungkin sebentar lagi saya akan rilis versi pdf-nya.
Sebelum beropini mungkin saya mau mengajukan sebuah pertanyaan dahulu – supaya ada kesamaan visi, daripada nanti jadinya membandingkan apel dan jeruk (sama-sama buah sih, tapi tetap saja beda):
“Definisi Media Baru (Indonesia) itu apa sih? Apakah lintas disiplin adalah ‘media baru’ atau seperti yang diutarakan Gustaff, ada hubungannya dengan teknologi ‘baru’ (dalam hal ini digital=baru)?”
Definisi ini penting karena menurut opini saya, saya setuju dengan pandangan Gustaff bahwa wacana seni ‘media baru’ lebih berorientasi terhadap adopsi teknologi (digital) dalam seni.
Bukan hanya sebatas itu, adopsi teknologi (digital) ini pun bukan hanya sekedar menggunakan teknologi (digital) sebagai alat (tools) untuk menghasilkan karya seni yang pada dasarnya dapat dihasilkan dengan alat konvensional sebagaimana yang terjadi di Indonesia saat ini. Contohnya adalah memasang label ‘media baru’ pada karya seni poster yang proses pembuatannya menggunakan komputer ataupun seni video yang dibuat menggunakan kamera video digital. Terlalu sempit dan miskin kreativitas atas kemampuan teknologi (digital) itu sendiri.
Memang saat ini di Indonesia, seni video seringkali dimasukkan ke dalam label ‘media baru’. Dilihat dari penggunaan medianya mungkin memang tepat bahwa ‘video’ adalah media yang ‘baru’ digunakan oleh seniman (Indonesia) dalam berkarya. Tetapi label ‘media baru’ pada seni video sebenarnya memperkecil makna ‘media baru’ itu sendiri karena lebih mengkonsentrasikan pada penggunaan medianya (aplikasinya) daripada konsep dasar ‘media baru’ itu sendiri.
Seni ‘media baru’ berada di luar lingkup seni video yang bisa menggunakan beratus-ratus lembar foto sekuensial yang dibuat dengan kamera biasa (bahkan kamera obscura). Seni video adalah seni ‘baru’ (di Indonesia) tetapi dia bukanlah sesuatu yang dapat menyandang label ‘media baru’.
Kesalahpahaman pelabelan seni video sebagai seni ‘media baru’ tentunya dapat dimengerti – berdasarkan penggunaan medianya yang dapat dikatakan baru (di Indonesia). Tetapi saya sangat khawatir apabila hal ini menjadikan seniman-seniman Indonesia beranggapan bahwa dirinya telah berpartisipasi di dalam wacana seni ‘media baru’ dan berhenti mengeksplorasi sementara wacana seni ‘media baru’ dunia amatlah sangat berbeda dengan yang terjadi di Indonesia selama ini. Apakah yang telah diteliti oleh Gustaff bahwa “wacana seni rupa (di Indonesia) ternyata paling gagap teknologi (gabtek) dan nggak punya pengaruh secara langsung terhadap perkembangan praktik maupun wacana seni media.” akan terus berlanjut? Ataukah memang kita puas sampai disini saja?
‘Media Baru’ adalah konsep yang revolusioner. Konsep dimana makna ‘media’ menjadi sesuatu yang sangat berbeda karakternya, pengertiannya, pengapresiasiannya bahkan jiwanya karena mendapat suntikan energi baru dalam bentuk teknologi (digital). ‘Media Baru’ adalah sesuatu yang tidak dapat diciptakan tanpa bantuan teknologi (digital) dimana ada unsur-unsur baru seperti interaktivitas, partisipasi pemirsa, masukan data dinamis serta teknik presentasi karya ‘media baru’ itu sendiri.
Akan panjang membahas ‘media baru’ dalam bentuk tulisan di kolom kecil opini ini. Jadi lebih baik saya kutipkan beberapa tautan yang membahas mengenai ‘media baru’:
http://infosthetics.com/
http://www.turbulence.org/blog/
http://tecfa.unige.ch/perso/staf/nova/blog/
http://www.we-make-money-not-art.com/
Untuk Gustaff, salut atas Projekt-Heterologia-nya. Selama ini saya terus terang agak pesimis melihat kondisi ‘media baru’ di Indonesia. Tapi melihat Projekt-Heterologi saya salut dan bangga atas pekerjaan anda. Tertarik berkolaborasi atau paling tidak membuat workshop ‘media baru’?
Salam,
avianto
Hallo Avianto,
Pertama-tama mengenai definisi istilah seni media baru. Saya sebetulnya nggak begitu perduli dengan definisi. Maksudnya definisi atau pengertian yang paling umum mengenai seni media (baru) bisa jadi sebetulnya nggak ada. Ada banyak versi mengenai pengertian istilah ini, dan barangkali semuanya nggak ada yang salah dan nggak ada yang betul sepenuhnya. Bagaimanapun bahasa adalah gejala yang arbitrer. Kita nggak mungkin menanangkap makna yang fix dari sebuah struktur kode atau bahasa. Saya percaya pemaknaan media baru akan lebih kaya kalau kita biarkan “mengambang” untuk terus memancing diskusi dan praktik negosiasi bahasa.
Thx ya atas comment-nya. Mudah-mudahan obrolan kita di sini bisa memancing kita untuk lebih produktif
Tapi di tingkatan praktik, kita tentu saja bisa mengenali apa itu media baru. Untuk sementara, barangkali apa yang kita anggap sebagai media baru adalah segala sesuatu yang berbeda – baik dalam bentuk maupun pemahaman – dengan media lama. Dalam hal ini taruhlah media digital, karena media ini adalah medium yang relatif baru dikenal dalam peradaban manusia modern secara merata hampir di seluruh dunia. Tentu hal ini juga dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu, apakah itu interaktifitas, interface, konektifitas, konvergensi atau gejala produksi/distribusi struktur bahasa yang memanfaatkan kode ataupun sinyal tertentu.
Saya sendiri lebih tertarik melihat praktik seni media sebagai sebuah gejala praktik budaya dimana ekspresi bahasa diproduksi dan disebarkan melalui cara-cara yang begitu spesifik, terutama ketika kita mengalami konektifitas yang luar biasa melalui jagat internet. Di sini, kita tidak bisa melihat ini hanya sebagai sebuah gejala estetik, tetapi juga sebaiknya dilihat melalui perspektif multidisiplin karena melibatkan berbagai lapis pengetahuan dan tools teknologi, mulai dari software/hardware, kode, sinyal, tanda-tanda, simbol, gestur, bentuk, suara, gelombang, frekwensi, dsb. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau wacana maupun praktik seni media senantiasa beririsan dengan disiplin pengetahuan yang lain, karena memang sejak awal disiplin seni media dibangun secara kolektif melalui jemaring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (selain pengaruh-pengaruh di tataran geo-politik dan ekonomi).
Sampai saat ini, bahkan di negara2 maju pemahaman mengenai seni media senantiasa mengalami pergeseran yang luar biasa dinamis. Hal ini tentu juga terkait dengan masalah lokalitas, dimana istilah seni media baru bersentuhan dengan persoalan-persoalan lokal dan global di saat yang bersamaan. Sampai saat ini kita sama-sama bisa menyaksikan bagaimana teknologi internet berhasil menciptakan kompresi ruang/waktu yang luar biasa dinamis sehingga mencairkan konsepsi yang mapan mengenai teritori dan membangun pandangan-pandangan baru di wilayah extra-teritori.
Oleh karena itu, untuk saya istilah seni media baru juga tidak bisa hanya dilihat sebagai sebuah wacana/praktik seni yang mengadopsi perkembangan teknologi. Apabla dilihat dari perkembangannya seni media lebih cendrung merupakan sebuah praktik budaya yang justru “dilahirkan” oleh perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Makanya nggak heran kalau banyak yang berpendapat kalau perkembangan seni media merupakan “patahan” (rupture) dalam peradaban manusia modern. Berkat perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini kita mengalami lompatan yang memberikan dampak baik secara politik, ekonomi maupun relasi sosial/ personal. Di Indonesia kenyataan-kenyataan ini mungkin belum begitu terasa. Tapi saya yakin sekali gelombang pasang peradaban media akan memperlihatkan wajahnya yang baru dalam jangka waktu yang nggak terlalu lama.
Ok, barangkali diskusi ini bisa terus kita lanjutkan…sorry ya kalo kepanjangan.
Salam,
-Gustaff
http://www.projektheterologia.wordpress.com
ps: wah kalo untuk bikin kolaborasi atau workshop tentu saja saya tertarik…Oh iya, Mas Avianto kalo nggak salah termasuk penggagas Klub Linux Bandung ya? Beberapa waktu terakhir teman2 Klub Linux Bandung aktif bikin kegiatan di Common Room. Di blog saya ada artikel yang menarik tentang open source culture. Kalau ada waktu silahkan baca di http://projektheterologia.wordpress.com/2007/02/17/the-next-layer-or-the-emergence-of-open-source-culture/
Artikel mengenai beberapa organisasi/praktik baru di bidang media dan teknologi: http://www.turbulence.org/blog/archives/002811.html
Review program workshop media baru di Bandung:
http://www.virtueelplatform.nl/article-589-en.html
http://www.universes-in-universe.de/islam/eng/2005/029/index.html
Dari ISEA 2004 (Helsinki Agenda): http://www.virtueelplatform.nl/article-531-en.html
Hallo
interupt sebentar kang Gustaff n mas Avianto,
hari ini adalah hari terakhir acara pameran seni rupa paling besar di daratan amerika (begitulah info nya) bertempat di gedung Hall A dan B Metro Toronto Convention Centre dari tgl 15 – 18 Maret 2007.
selain tempatnya besar acaranya juga menarik, seperti menampilkan kebudayaan dari berbagai negara, cukup menarik dan cukup dibuat pusing, saking banyaknya keragaman lukisan dan mikirin pameran lukisan dengan jumlah artis lebih dari 300 stand yang semuanya di jelas untuk dijual.
ok biar jelas buka http://www.torontoartexpo.com
di lanjut!
nuhun.
perihal kata “baru” memang dalam sejarah bisa syah alias benar benar dalam makna: baru. tapi bisa juga salah kaprah, seperti “orde baru” (“baru” apa-nya? di jerman, sebelum perang dunia ke-2 sudah ada “orde baru” yang secara hakiki watak kekuasaannya sami mawon).
salam kreatif,
(kohar)
tolong lihatin site saya http://odoygiantfansclub.multiply.com
yang saya bikin, apakah termasuk new media art…kalo termasuk napa ya saya jarang dapet panggilan pameran. terutama pameran di bandung…
salam kenal utnuk semua rekan rekan seniman yang udah menuliskan opininya disini…….
http/www.aneomen.wordpress.com
Berkenaan di adakan In memorium alit sembodo
kami mengundand anda semua seniman,pemerhati seni,semua masyarakan untuk menengok blog ini untuk mengetahui tentang alm Alit Sembodo,dan info tentang akan di adakanya pameran “Tribut to Alit Sembodo” dengan tema besar BARATAYUDHA part 1.
http://alitsembodo.wordpress.com/
Karya seni, Kesenian, dan Manusia
Pameran lukisan digelar sebagai tindak lanjut keberadaan karya dicipta oleh kreator. Wilayah ego dan kebebasan kreator telah diwakili karya (Seni) sebagai bahan acuan apresasi yang ditawarkan kepada khalayak (Apresiator) karya seni sebagai salah satu sarana pergulatan dan aktualisasi nilai-nilai tertentu melalui pencapaian pekerjaan dan pengalaman berkarya (History) karya seni juga dapat mengingatkan kembali nilai-nilai hidup (Sprint) yang sempat dikenali manusia, nilai yang telah di analisis dirumuskan menjadi semangat hidup, diperjuangkan dengan segenap sikap batin (Kepercayaan, Kepatuhan) dan di daya gunakan dalam kehidupan nyata.
Nilai yang alamiah mampu mendorong langkah dinamis antar manusia yang membutuhkan tukar pengalaman melalui aneka bahasa, termasuk bahasa visual, dengan anugerah akal dan kehendak, maka pantas kiranya jika kita tidak pernah jemu mengolah nilai menjadi fakta dan manfaat. Kesengajaan (Niat, Kehendak) memilih dan meletakkan nilai yang dipertaruhkan ideologi adalah langkah mutlak agar kesadaran kreasi terus menyentuh rasa tanggung jawab manusia dalam berkarya nyata. Perilaku kreator dan buah karya sesederhana apapun sosoknya selalu menuntut adanya pertanggungjawaban. Hal ini memposisikan sikap seniman (dari keutuhan antara konsepsi dan karya) sebagai subjek self kontrol dan sosial kontrol.
Karya sebagai bukti adanya kesadaran atas nilai tanggapan produktif atas esensi dan sistem nilai dan representasi perenungan menyikapi dunia sosial beserta segala fenomena yang berkecamuk. Seniman atau pekerja seni yang kreatifitasnya didorong oleh motivasi mengkritisi kebekuan sistem nilai pasti menyisipkan pesan dialogis yang khusus dan unik. Sedangkan konsepsi yang sudah mewujud dalam bentuk karya apapun membuat khlayak pemerhati (Apresiator) dapat dengan leluasa menimbang nilai yang menjadi asas (Priciple) dan menyublim menjadi intisari daya tawar pelukis (Seniman) terhadap peminat karya seni
Sebuah nilai memiliki kesatuan dan dinamika yakni asal, unsur, proses, faedah, dan tujuan. Kesatuan dan dinamika ini berawal, berproses, dan berakhir sebagai teminal antara berwujud pokok bahasan. Nilai tertentu memilki esensi antara lain adil, luhur, damai, nikmat, yang dibeberkan bagi letak dan siasat mengatur hidup dan kehidupan pribadi beserta segenap lingkunganya. Dalam kebebasan bahasa ungkap dapat diproduksi citra yang ditanggapi melalui ragam interpretasi.
Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya
Seorang seniman memilki kesadaran terhadap dirinya sendiri sebagai fungsi sosial, tentunya setiap berkarya tidak terlintas keinginanya untuk menghidupkan atau menyemarakkan iklim dunia seni rupa. Di tengah-tengah arus perkembangan seni rupa kita, ada yang berkeinginan mengarahkan seni rupa pada kesenian budaya industri. Dimana seniman diajak untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai ekonomi. Karena banyak yang beranggapan, bahwa hanya dengan keberuntungan ekonomi perkembangan seni budaya bisa berjalan. Jadi seni rupa dapat berkembang apabila mampu menghidupi senimannya.
Tercermin pada Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 (PSLI 2009) Di Surabaya 1-11 Mei 2009 bahwa setiap lukisan yang ada di PSLI 2009 harus “Musti” terjual semua, itulah keinginan semua seniman kita, walau berapapun harga setiap lukisan tidak seimbang dengan nilai artistik yang oleh seniman. Jumlah peserta pada tahun ini lebih banyak 3 kali lipat dari event tahun lalu, itu manandakan bahwa pada tahun ini setiap seniman ingin mencari keberuntungan dari pasar seni lukis di Surabaya.
Keberuntungan seni rupa, Seni rupa yang diproduksi secara massal oleh banyak seniman, itulah pasar seni lukis. Pasar seni rupa sering dipakai untuk gerakan kebudayaan. Tidak jarang seni rupa dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sesaat. Sebenarnya lebih jauh seni rupa dapat difungsikan sebagai alat pembelajaran, pembebasan, pemberontakan, pendampingan, pencerahan dan seterusnya, dalam konteks gerakan kebudayaan.
Sebagaimana mestinya seni lukis merupakan aksi kebudayaan, selalu lahir ditengah-tengah konflik sosial, politik, ekonomi, hukum, lingkungan, industri dan segala jenis kepincangan realitas sosial. Kehadiran Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya semoga memberikan kesaksian dan menjawab setiap tantangan jaman.
Penulis Syamsu Hidayanto
Email hidayantos32@yahoo.co.id
Usia 24 tahun
Mahasiswa Seni Rupa
Universitas Negeri Surabaya
Jln Babatan Gang 4 no 11 Surabaya
No tlp 085932162766