<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Wacana Seni Rupa Kontemporer</title>
	<atom:link href="http://diskusisenirupa.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com</link>
	<description>Diskusi Seni Rupa On-Line</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2009 12:06:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Topik 2 by Edo Abdullah</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-2/#comment-413</link>
		<dc:creator>Edo Abdullah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 12:06:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-2/#comment-413</guid>
		<description>Kontroversi soal seni rupa dalam islam gak bakalan ketemu ujungnya kalau yang bicara maupun yang menanggapi sama-sama &#039;kwekeh&#039; dengan pemahamannya sendiri. Nah kalo saya ta&#039; iye, berpendapat : Islam adalah agama besar yang sangat universal dan karena sangat universalnya itu sampai-sampai denyut nadi dan seluruh nafas kita haruslah juga Islam. Jadi kalau nabi Muhammad melarang penggambaran sesuatu yang bernyawa pada saat itu ya kita lihat dulu dong kontek zamannya, kata kiyai kalau mau memahami surat (Al-Qur&#039;an) pahami juga asbabun nuzulnya supaya kita gak kesasar alias jangan memahami sesuatu secara leterleg bisa jumut nanti. Menurut saya Islam tidak akan menjadi kecil hanya karena masalah seni rupa demikian juga juga sebaliknya. Tetapi Islam juga tidak melarang segala sesuatu (ibadah muamalah) sepanjang tidak bertentangan dengan syariatnya. Islam sangat keras melarang  sesuatu yang ditambah-tambahkan dalam ibadah ritual. Itu aja patokannya, gampangkan? Akan halnya seni (seni apa aja deh) sepanjang tak melanggar rambu-rambu syariat ya boleh boleh saja toh. Soal bentuknya, realis, suryalis, naturalis, dalam seni rupa. Atau rock, metal, jazz, dangdut, nasyid dll dalam musik, pokoknya apa aja deh sepanjang gak porno, gak intimidasi, gak mengarahkan orang ke hal negatif, gak bertujuan 
 kejahatan intelektual dan konco-konconya, , walah...ya boleh toh. Justru dengan musik yang elegan, dengan lukisan menawan dan  punya kedalaman yang mengarahkan orang pada kebesaran Sang Pencipta, bersifat dakwah, wah itu bernilai ibadah sangat tinggi, bukan begitu ya pak Lik? Jadi kalau kita pelukis beragama Islam yaitu pahamnya, jangan keluar dari pemahan hukum Islam, lebih bagus kalau ART for TAUHID ! ( Sorry, bukan ART for ART) easygoing aja gak usah ruwet ruwet. Nah teman, itu paham saya saat ini, yang lain mo beda ya monggo aja kan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kontroversi soal seni rupa dalam islam gak bakalan ketemu ujungnya kalau yang bicara maupun yang menanggapi sama-sama &#8216;kwekeh&#8217; dengan pemahamannya sendiri. Nah kalo saya ta&#8217; iye, berpendapat : Islam adalah agama besar yang sangat universal dan karena sangat universalnya itu sampai-sampai denyut nadi dan seluruh nafas kita haruslah juga Islam. Jadi kalau nabi Muhammad melarang penggambaran sesuatu yang bernyawa pada saat itu ya kita lihat dulu dong kontek zamannya, kata kiyai kalau mau memahami surat (Al-Qur&#8217;an) pahami juga asbabun nuzulnya supaya kita gak kesasar alias jangan memahami sesuatu secara leterleg bisa jumut nanti. Menurut saya Islam tidak akan menjadi kecil hanya karena masalah seni rupa demikian juga juga sebaliknya. Tetapi Islam juga tidak melarang segala sesuatu (ibadah muamalah) sepanjang tidak bertentangan dengan syariatnya. Islam sangat keras melarang  sesuatu yang ditambah-tambahkan dalam ibadah ritual. Itu aja patokannya, gampangkan? Akan halnya seni (seni apa aja deh) sepanjang tak melanggar rambu-rambu syariat ya boleh boleh saja toh. Soal bentuknya, realis, suryalis, naturalis, dalam seni rupa. Atau rock, metal, jazz, dangdut, nasyid dll dalam musik, pokoknya apa aja deh sepanjang gak porno, gak intimidasi, gak mengarahkan orang ke hal negatif, gak bertujuan<br />
 kejahatan intelektual dan konco-konconya, , walah&#8230;ya boleh toh. Justru dengan musik yang elegan, dengan lukisan menawan dan  punya kedalaman yang mengarahkan orang pada kebesaran Sang Pencipta, bersifat dakwah, wah itu bernilai ibadah sangat tinggi, bukan begitu ya pak Lik? Jadi kalau kita pelukis beragama Islam yaitu pahamnya, jangan keluar dari pemahan hukum Islam, lebih bagus kalau ART for TAUHID ! ( Sorry, bukan ART for ART) easygoing aja gak usah ruwet ruwet. Nah teman, itu paham saya saat ini, yang lain mo beda ya monggo aja kan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on B &#8211; Opini Pameran by syamsu hidayanto</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/#comment-399</link>
		<dc:creator>syamsu hidayanto</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 04:35:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/#comment-399</guid>
		<description>Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya


 	Seorang seniman memilki kesadaran terhadap dirinya sendiri sebagai fungsi sosial, tentunya setiap berkarya tidak terlintas keinginanya untuk menghidupkan atau menyemarakkan iklim dunia seni rupa. Di tengah-tengah arus perkembangan seni rupa kita, ada yang berkeinginan mengarahkan seni rupa pada kesenian budaya industri. Dimana seniman diajak untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai ekonomi. Karena banyak yang beranggapan, bahwa hanya dengan keberuntungan ekonomi perkembangan seni budaya bisa berjalan. Jadi seni rupa dapat berkembang apabila mampu menghidupi senimannya.
	 Tercermin pada Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 (PSLI 2009) Di  Surabaya 1-11 Mei 2009 bahwa setiap lukisan yang ada di PSLI 2009 harus “Musti” terjual semua, itulah keinginan semua seniman kita, walau berapapun harga setiap lukisan tidak seimbang dengan nilai artistik yang oleh seniman. Jumlah peserta pada tahun ini lebih banyak 3 kali lipat dari event tahun lalu, itu manandakan bahwa pada tahun ini setiap seniman ingin mencari keberuntungan dari pasar seni lukis di Surabaya.
	Keberuntungan seni rupa, Seni rupa yang diproduksi secara massal oleh banyak seniman, itulah pasar seni lukis. Pasar seni rupa sering dipakai untuk gerakan kebudayaan. Tidak jarang seni rupa dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sesaat. Sebenarnya lebih jauh seni rupa dapat difungsikan sebagai alat pembelajaran, pembebasan, pemberontakan, pendampingan, pencerahan dan seterusnya, dalam konteks gerakan kebudayaan.
	Sebagaimana mestinya seni lukis merupakan aksi kebudayaan, selalu lahir ditengah-tengah konflik sosial, politik, ekonomi, hukum, lingkungan, industri dan segala jenis kepincangan realitas sosial. Kehadiran Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya semoga memberikan kesaksian dan menjawab setiap tantangan jaman.


Penulis Syamsu Hidayanto
Email hidayantos32@yahoo.co.id
Usia 24 tahun
Mahasiswa Seni Rupa 
Universitas Negeri Surabaya
Jln Babatan Gang 4 no 11 Surabaya
No tlp 085932162766</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya</p>
<p> 	Seorang seniman memilki kesadaran terhadap dirinya sendiri sebagai fungsi sosial, tentunya setiap berkarya tidak terlintas keinginanya untuk menghidupkan atau menyemarakkan iklim dunia seni rupa. Di tengah-tengah arus perkembangan seni rupa kita, ada yang berkeinginan mengarahkan seni rupa pada kesenian budaya industri. Dimana seniman diajak untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai ekonomi. Karena banyak yang beranggapan, bahwa hanya dengan keberuntungan ekonomi perkembangan seni budaya bisa berjalan. Jadi seni rupa dapat berkembang apabila mampu menghidupi senimannya.<br />
	 Tercermin pada Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 (PSLI 2009) Di  Surabaya 1-11 Mei 2009 bahwa setiap lukisan yang ada di PSLI 2009 harus “Musti” terjual semua, itulah keinginan semua seniman kita, walau berapapun harga setiap lukisan tidak seimbang dengan nilai artistik yang oleh seniman. Jumlah peserta pada tahun ini lebih banyak 3 kali lipat dari event tahun lalu, itu manandakan bahwa pada tahun ini setiap seniman ingin mencari keberuntungan dari pasar seni lukis di Surabaya.<br />
	Keberuntungan seni rupa, Seni rupa yang diproduksi secara massal oleh banyak seniman, itulah pasar seni lukis. Pasar seni rupa sering dipakai untuk gerakan kebudayaan. Tidak jarang seni rupa dimanfaatkan sebagai alat propaganda oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan sesaat. Sebenarnya lebih jauh seni rupa dapat difungsikan sebagai alat pembelajaran, pembebasan, pemberontakan, pendampingan, pencerahan dan seterusnya, dalam konteks gerakan kebudayaan.<br />
	Sebagaimana mestinya seni lukis merupakan aksi kebudayaan, selalu lahir ditengah-tengah konflik sosial, politik, ekonomi, hukum, lingkungan, industri dan segala jenis kepincangan realitas sosial. Kehadiran Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 di Surabaya semoga memberikan kesaksian dan menjawab setiap tantangan jaman.</p>
<p>Penulis Syamsu Hidayanto<br />
Email <a href="mailto:hidayantos32@yahoo.co.id">hidayantos32@yahoo.co.id</a><br />
Usia 24 tahun<br />
Mahasiswa Seni Rupa<br />
Universitas Negeri Surabaya<br />
Jln Babatan Gang 4 no 11 Surabaya<br />
No tlp 085932162766</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on B &#8211; Opini Pameran by syamsu hidayanto</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/#comment-396</link>
		<dc:creator>syamsu hidayanto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 13:34:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/#comment-396</guid>
		<description>Karya seni, Kesenian, dan Manusia

	Pameran lukisan digelar sebagai tindak lanjut keberadaan karya dicipta oleh kreator. Wilayah ego dan kebebasan kreator telah diwakili karya (Seni) sebagai bahan acuan apresasi yang ditawarkan kepada khalayak (Apresiator) karya seni sebagai salah satu sarana pergulatan dan aktualisasi nilai-nilai tertentu melalui pencapaian pekerjaan dan pengalaman berkarya (History) karya seni juga dapat mengingatkan kembali nilai-nilai hidup (Sprint) yang sempat dikenali manusia, nilai yang telah di analisis dirumuskan menjadi semangat hidup, diperjuangkan dengan segenap sikap batin (Kepercayaan, Kepatuhan) dan di daya gunakan dalam kehidupan nyata.
	Nilai yang alamiah mampu mendorong langkah dinamis antar manusia yang membutuhkan tukar pengalaman melalui aneka bahasa, termasuk bahasa visual, dengan anugerah akal dan kehendak, maka pantas kiranya jika kita tidak pernah jemu mengolah nilai menjadi fakta dan manfaat. Kesengajaan (Niat, Kehendak) memilih dan meletakkan nilai yang dipertaruhkan ideologi adalah langkah mutlak agar kesadaran kreasi terus menyentuh rasa tanggung jawab manusia dalam berkarya nyata. Perilaku kreator dan buah karya sesederhana apapun sosoknya selalu menuntut adanya pertanggungjawaban. Hal ini memposisikan sikap seniman (dari keutuhan antara konsepsi dan karya) sebagai subjek self kontrol dan sosial kontrol. 
	Karya sebagai bukti adanya kesadaran atas nilai tanggapan produktif atas esensi dan sistem nilai dan representasi perenungan menyikapi dunia sosial  beserta segala fenomena yang berkecamuk. Seniman atau pekerja seni yang kreatifitasnya didorong oleh motivasi mengkritisi kebekuan sistem nilai pasti menyisipkan pesan dialogis yang khusus dan unik. Sedangkan konsepsi yang sudah mewujud dalam bentuk karya apapun membuat khlayak pemerhati (Apresiator) dapat dengan leluasa menimbang nilai yang menjadi asas (Priciple) dan menyublim menjadi intisari daya tawar pelukis (Seniman) terhadap peminat karya seni 
	Sebuah nilai memiliki kesatuan dan dinamika yakni asal, unsur, proses, faedah, dan tujuan. Kesatuan dan dinamika ini berawal, berproses, dan berakhir  sebagai teminal antara berwujud pokok bahasan. Nilai tertentu memilki esensi antara lain adil, luhur, damai, nikmat, yang dibeberkan bagi letak dan siasat mengatur hidup dan kehidupan pribadi beserta segenap lingkunganya. Dalam kebebasan bahasa ungkap dapat diproduksi citra yang ditanggapi melalui ragam interpretasi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Karya seni, Kesenian, dan Manusia</p>
<p>	Pameran lukisan digelar sebagai tindak lanjut keberadaan karya dicipta oleh kreator. Wilayah ego dan kebebasan kreator telah diwakili karya (Seni) sebagai bahan acuan apresasi yang ditawarkan kepada khalayak (Apresiator) karya seni sebagai salah satu sarana pergulatan dan aktualisasi nilai-nilai tertentu melalui pencapaian pekerjaan dan pengalaman berkarya (History) karya seni juga dapat mengingatkan kembali nilai-nilai hidup (Sprint) yang sempat dikenali manusia, nilai yang telah di analisis dirumuskan menjadi semangat hidup, diperjuangkan dengan segenap sikap batin (Kepercayaan, Kepatuhan) dan di daya gunakan dalam kehidupan nyata.<br />
	Nilai yang alamiah mampu mendorong langkah dinamis antar manusia yang membutuhkan tukar pengalaman melalui aneka bahasa, termasuk bahasa visual, dengan anugerah akal dan kehendak, maka pantas kiranya jika kita tidak pernah jemu mengolah nilai menjadi fakta dan manfaat. Kesengajaan (Niat, Kehendak) memilih dan meletakkan nilai yang dipertaruhkan ideologi adalah langkah mutlak agar kesadaran kreasi terus menyentuh rasa tanggung jawab manusia dalam berkarya nyata. Perilaku kreator dan buah karya sesederhana apapun sosoknya selalu menuntut adanya pertanggungjawaban. Hal ini memposisikan sikap seniman (dari keutuhan antara konsepsi dan karya) sebagai subjek self kontrol dan sosial kontrol.<br />
	Karya sebagai bukti adanya kesadaran atas nilai tanggapan produktif atas esensi dan sistem nilai dan representasi perenungan menyikapi dunia sosial  beserta segala fenomena yang berkecamuk. Seniman atau pekerja seni yang kreatifitasnya didorong oleh motivasi mengkritisi kebekuan sistem nilai pasti menyisipkan pesan dialogis yang khusus dan unik. Sedangkan konsepsi yang sudah mewujud dalam bentuk karya apapun membuat khlayak pemerhati (Apresiator) dapat dengan leluasa menimbang nilai yang menjadi asas (Priciple) dan menyublim menjadi intisari daya tawar pelukis (Seniman) terhadap peminat karya seni<br />
	Sebuah nilai memiliki kesatuan dan dinamika yakni asal, unsur, proses, faedah, dan tujuan. Kesatuan dan dinamika ini berawal, berproses, dan berakhir  sebagai teminal antara berwujud pokok bahasan. Nilai tertentu memilki esensi antara lain adil, luhur, damai, nikmat, yang dibeberkan bagi letak dan siasat mengatur hidup dan kehidupan pribadi beserta segenap lingkunganya. Dalam kebebasan bahasa ungkap dapat diproduksi citra yang ditanggapi melalui ragam interpretasi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ulasan Anda by yudhasax</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/ulasan-anda/#comment-168</link>
		<dc:creator>yudhasax</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 06:51:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/ulasan-anda/#comment-168</guid>
		<description>satu kata untuk agus suwage :cerdas</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>satu kata untuk agus suwage :cerdas</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Topik 1 by yudhasax</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-1/#comment-167</link>
		<dc:creator>yudhasax</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 06:43:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-1/#comment-167</guid>
		<description>event itu masih perlu cmn jangan jadi elitis, nggak ngaruh ke kalangan yang luas, coba kerjasama ama kalangan industrialis untuk gencar ngebom ke masyarakat lewat event rutin senirupa d tv kek, jadi nyambung gitu masyarakatnya dan tambah banyak yang ngapresiasi. udh dr sononya kl masyarakat indonesia tuh berbudaya dan artistik tinggal stimulusnya aja infrastruktur senirupa mesti berkembang seiring booming pasar biar tambah maju, amal dikit napa?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>event itu masih perlu cmn jangan jadi elitis, nggak ngaruh ke kalangan yang luas, coba kerjasama ama kalangan industrialis untuk gencar ngebom ke masyarakat lewat event rutin senirupa d tv kek, jadi nyambung gitu masyarakatnya dan tambah banyak yang ngapresiasi. udh dr sononya kl masyarakat indonesia tuh berbudaya dan artistik tinggal stimulusnya aja infrastruktur senirupa mesti berkembang seiring booming pasar biar tambah maju, amal dikit napa?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ulasan Titarubi dan Tanggapan by ali</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/ulasan-titarubi-dan-tanggapan/#comment-166</link>
		<dc:creator>ali</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 04:53:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/b-opini-pameran/ulasan-titarubi-dan-tanggapan/#comment-166</guid>
		<description>sampai kepada tujuannya knp titarubi sampai tertohok karena karya tersebut dimaksudkan untuk menggugah kesadaran pribadi setiap orang yang melihatnya, semakin halus perasaannya makin mudah tersentuh oleh hal demikian, dahulu hal seperti itu lebih sering terjadi karena masing2 masih berkomunikasi dgn berbudaya, yang membedakan dengan sekarang dimana masing2 harus berteriak dan memaksakan agar diperhatikan orang lain, hati yang makin jauh satu sama lain perasaan yang makin bebal, maaf satu diantara yang paling halus karya harus satiris dan mengganggu tidak memberikan perassan estetika yang sekedar nyaman dan indah, kan lebih enak</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sampai kepada tujuannya knp titarubi sampai tertohok karena karya tersebut dimaksudkan untuk menggugah kesadaran pribadi setiap orang yang melihatnya, semakin halus perasaannya makin mudah tersentuh oleh hal demikian, dahulu hal seperti itu lebih sering terjadi karena masing2 masih berkomunikasi dgn berbudaya, yang membedakan dengan sekarang dimana masing2 harus berteriak dan memaksakan agar diperhatikan orang lain, hati yang makin jauh satu sama lain perasaan yang makin bebal, maaf satu diantara yang paling halus karya harus satiris dan mengganggu tidak memberikan perassan estetika yang sekedar nyaman dan indah, kan lebih enak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on C &#8211; Perupa Pilihan Anda by syahrizal pahlevi</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/perupa-pilihan-anda/#comment-159</link>
		<dc:creator>syahrizal pahlevi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 09:11:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/perupa-pilihan-anda/#comment-159</guid>
		<description>3 teratas:
Ugo Untoro
Tisna Sanjaya
Arahmaiani</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>3 teratas:<br />
Ugo Untoro<br />
Tisna Sanjaya<br />
Arahmaiani</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Topik 1 by syahrizal pahlevi</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-1/#comment-158</link>
		<dc:creator>syahrizal pahlevi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 08:59:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-1/#comment-158</guid>
		<description>Bienal-Trienalnya diperbanyak. dibuat makin spesifik, per media atau per teknik misalnya.
Lokal, internasional boleh saja.
Tingkat provinsi, kota bahkan tingkat kampung knapa tidak?
Oleh pemerintah, swasta/kelompok, perorangan oke-oke juga.
Untuk yunior, senior boleh dicoba biar seperti di Olah Raga ada PSSI usia bawah 18 tahun atau diatas  35 tahun...hahaha.
Nanti juga akan terseleksi mana even yang bergengsi mana yang sekedar penggembira. Even bergengsi akan selalu diminati dan even penggembira pelan-pelan pasti akan ditinggalkan.
perupa tidak perlu cemas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bienal-Trienalnya diperbanyak. dibuat makin spesifik, per media atau per teknik misalnya.<br />
Lokal, internasional boleh saja.<br />
Tingkat provinsi, kota bahkan tingkat kampung knapa tidak?<br />
Oleh pemerintah, swasta/kelompok, perorangan oke-oke juga.<br />
Untuk yunior, senior boleh dicoba biar seperti di Olah Raga ada PSSI usia bawah 18 tahun atau diatas  35 tahun&#8230;hahaha.<br />
Nanti juga akan terseleksi mana even yang bergengsi mana yang sekedar penggembira. Even bergengsi akan selalu diminati dan even penggembira pelan-pelan pasti akan ditinggalkan.<br />
perupa tidak perlu cemas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on A &#8211; Halaman Topik by boyhasan</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/#comment-154</link>
		<dc:creator>boyhasan</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 15:16:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-154</guid>
		<description>Visual Art

saya  berharap banyak; media visual art memberikan persepsi  
baru bagaimana saya memandang seni visual secara keseluruhan.

saya ingin belajar banyak tentang seni rupa, demikianpun dengan seni visual secara umunya...
saya sangat awam tentang segala hal yang berhubungan dengan seni rupa, terutama nilai-nilai yang menyertainya...
saat ini saya melukis mengunakan cat minyak dengan media kanvas...
keterbatasan pengetahuan, orang-orang, ataupun komunitas yang relevan sangat menyulitkan saya dalam berproses serta belajar.
adalah sebuah kebahagian bagi saya, terhadap siapapun yang ingin membantu saya.

TERIMA KASIH
boynedihasan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Visual Art</p>
<p>saya  berharap banyak; media visual art memberikan persepsi<br />
baru bagaimana saya memandang seni visual secara keseluruhan.</p>
<p>saya ingin belajar banyak tentang seni rupa, demikianpun dengan seni visual secara umunya&#8230;<br />
saya sangat awam tentang segala hal yang berhubungan dengan seni rupa, terutama nilai-nilai yang menyertainya&#8230;<br />
saat ini saya melukis mengunakan cat minyak dengan media kanvas&#8230;<br />
keterbatasan pengetahuan, orang-orang, ataupun komunitas yang relevan sangat menyulitkan saya dalam berproses serta belajar.<br />
adalah sebuah kebahagian bagi saya, terhadap siapapun yang ingin membantu saya.</p>
<p>TERIMA KASIH<br />
boynedihasan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Topik 2 by edityaz nh</title>
		<link>http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-2/#comment-148</link>
		<dc:creator>edityaz nh</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 02:56:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://diskusisenirupa.wordpress.com/about/topik-2/#comment-148</guid>
		<description>saya muslim, tiap hari sholat. kadang puasa senin kamis. saya juga bertato... tampang saya ga ada sangar2nya. so what dy think ???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya muslim, tiap hari sholat. kadang puasa senin kamis. saya juga bertato&#8230; tampang saya ga ada sangar2nya. so what dy think ???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
